#Coretan
Kamar itu menjadi saksi kajaiban
apa yang telah aku rasakan waktu itu. Hati yang dulunya selalu dalam
kegelisahan dan mencari ketenangan dengan cara yang salah sekarang menjadi
damai bahkan hanya di sebuah kamar tak perlu aku pergi kepantai atau naik
gunung untuk mencari kedamaian. Pandangan ku akan dunia yang selama ini menjadi
prioritas utama berubah seakan-akan dunia tak jauh berbeda dengan stasiun
kereta hanya menunggu giliran maka aku akan pergi dari dunia ini tanpa bisa
meminta toleransi walaupun hanya 1 detik.
Aku memeluk ibu dengan sangat erat,
menangis sejadi-jadinya dan aku meminta maaf kepadanya, dia adalah tiket untuk
aku bisa ketempat terbaik tetapi selama ini aku di butakan oleh indahnya
keadaan yang aku kira akan bertahan selamanya. Dia adalah makhluk ciptaan Tuhan
yang paling baik yang pernah ada, bahkan tak ada seorang anak yang mampu
membalas semua pengorbanan ibunya.
Aku mencoba menjelaskan semua nya
kepada ibuku, dan aku meminta maaf kepadanya dan meminta agar dia bisa
memaafkanku dan mau membantuku memperbaiki diriku, ibu hanya menangis dan
berkata “Seorang ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya dan tanpa
anaknya meminta maaf pun seorang ibu akan selalu memaafkan kesalahan anaknya”.
Perkataan ibu membuatku makin menangis.
Ketika aku menangis dengan ibuku di
kamar tanpa kami ketahui ternyata ayah saat itu mendengarkan pembicaraan kami,
ayah meneteskan air mata dan pergi kekamarnya untuk sujud syukur dengan
kejadian yang telah terjadi. Hari itu sungguh haru, saat hari itu juga aku
memutuskan untuk menutup auratku menghapus semua foto di sosial media yang memperlihatkan
auratku, bahkan aku mengunfollow semua artis dan aktor korea yang aku ikuti di
instagram. Aku juga mencoba mengikuti ulama-ulama, ustad dan ustadzah dan
akun-akun yang bisa membantuku dalam merubah diriku menjadi lebih baik lagi.
aku mencoba lebih banyak belajar kajian di youtube dari ustadz-uztadz terkenal
Indonesia seperti Ustadz Adi Hidayat, Hanan Attaki, Abdul Somad, Felix Siauw
dan yang lainnya. Aku mulai memperbaiki bacaan Quran ku, Aku juga belajar
Bahasa Arab karena ingin lebih memahami Quran dan ingin melanjutkan S2 ke
Mesir. Banyak perubahan yang aku alami semenjak hari itu. Bahkan hariku lebih
banyak aku habiskan di kamar mencoba sholat tepat waktu, memperbanyak amalan
ketika pagi, petang, malam dan setelah sholat, mulai mencoba puasa sunnah dan
sholat sunnah.
Perubahan tak akan bertahan lama
jika hanya dilandasi dengan semangat. Semangat bagaimana pun lama-kelamaan bisa
saja menurun bahkan menghilang. Iman seseorang memang selalu naik-turun apalagi
bagi seorang yang baru sepertiku, terkadang aku mulai bosan, bangun pagi pukul
3, mandi, sholat tahajud, membaca Quran hingga waktu sholat subuh tiba, membaca
zikir pagi, membersihkan kamar, sarapan, belajar bahasa arab yang tidak gampang,
sholat dhuha, membaca sejarah para Nabi dan Sahabat, sholat dzuhur, makan
siang, mendengarkan dan mencatat kajian lewat youtube, mandi, sholat ashar,
dzikir sore, membaca quran hingga sholat magrib, sholat isya, dzikir sebelum
tidur. lalu tidur. itu kegiatan yang aku lakukan selama 1 bulan lebih. Dan
tentu saja aku hanya manusia biasa yang pernah mengalami bosan.
Satu hal yang aku ingat ketika aku
mulai menyerah memperbaiki diri adalah aku tidak ingin kelak mendapatkan jodoh
yang akhirnya sama sepertiku, aku ingin mendapatkan jodoh yang jika bisa jauh
lebih baik dari aku hingga dia kelak dapat menuntun ku dan anak-anakku ke
Surga. Anggap saja standar suami idamanku adalah Harun. Dengan alasan dan niat
tersebut maka semangatku kembali mungcul dan akhirnya membawaku untuk tetap
dalam ketaatan.
***
Waktu liburan kuliah telah
belakhir, aku harus kembali ke kota untuk melanjutkan kuliah dan berpisah
dengan kedua orangtua ku. “Fara, nanti ke kota hari minggu saja ya, bareng sama
kakek. Soalnya kakek juga harus mengantar Harun dan Rahman ke pesantren”
perkataan ayahku membuat aku sangat kaget. Jadi aku akan satu mobil dengan
Harun dan bersama-sama pergi ke Kota. “kalau aku berankat bareng kakek berarti
ayah sama ibu tidak ikut kekota dong?” tanya ku sedikit agak sedih. Karena ayah
dan ibu sudah berjanji akan mengantarkan aku.
“maaf ya, ayah ada kerjaan jadi
tidak bisa, nanti kami akan menjenguk kamu. Malam minggu nanti kita kerumah
kakek, minggu paginya kamu akan berangkat ke kota. Tetapi kamu ikut dulu ke
pesantren untuk mengantar Harun dan Rahman”
Sejak pertemuanku dengan Harun
dirumah kakek jujur aku menaruh rasa kepadanya dan ini adalah kesempatan besar
untuk aku dapat lebih lama bersamanya. Dan aku juga akan pergi kepesantren
tempat dimana Harun menuntut ilmu, sungguh senang rasanya.
Waktu itu akhirnya tiba, aku kali
ini kembali bertemu dengan Harun, dapat melihat dia dengan jarak yang lumayan
dekat, dapat mendengarkan indah suaranya, dapat melihat perilakunya yang ternyata
sangat sopan dan baik kepada siapapun. Di perjalanan yang tidak sebentar tak
banyak ku lihat dia berbicara dia hanya fokus pada Kitab yang dia baca, entah
Kitab apa itu berwarna kecoklatan dan bertulisan arab sehinngga aku tak
mengetahuinya, dia bahkan tak pernah memangang handphone saat diperjalanan,
akhirnya aku paham mengapa waktu itu pesanku sangat lama ia balas. Sesampainya
di pesantren ku lihat banyak santri laki-laki yang menggunakan sarung untuk
pakaian bawah meraka, menggunakan baju berlengan panjang untuk atasannya dan
memakai peci. Serta sebuah kitab di tangannya yang bertulisan bahasa arab. Ini
bahkan pemandangan yang tak pernah aku lihat seumur hidupku. Ketika aku keluar
mobil mereka semua bahkan tak berani menatapku, jika menatap pun hanya sebentar
dan langsung menundukkan pandangan. Sangat jauh berbeda jika aku pergi ketempat
lain. Karena tidak enak berlama-lama akhirnya aku segera kembali masuk ke mobil
kakek, dan supir kakek mengatarkan ku ketempat aku tinggal sekitar 2 jam
perjalanan.
Aku merindukan teman ini ku lihat
dinding kontrakan yang juga terpenuhi dengan poster-poster idol korea dan
foto-foto mereka. Ku lihat rak buku yang berisikan album-album idol korea,
novel romantis, dan puisi-puisi cinta. Ku buka lemari pakaian yang berisikan
baju-baju yang dapat mengumbar auran. “ah, aku pikir aku dapat cepat
beristirahat setelah lelah di perjalanan, ternyata masih banyak yang aku
kerjakan.” Aku msedikit mengeluh sembari membersihkan kontarakanku. Sekitar 1
jam lebih aku juga belum selesai membersihkan, akhirnya aku memutuskan untuk
istirahat dan memesan burger kesukaanku.
Keesokan harinya perkuliahan
dimulai, untuk pertama kalianya aku menggunakan pakaian berbeda kekampus, aku
menggunakan gamis yang panjang dan menggunakan khimar yang menutup bagian dada.
Awalnya aku sangat tidak terbiasa, jika selama libur dirumah saja tak masalah
aku berpenampilan seperti itu tetapi ketika di kampus maka akan berbeda
ceritanya, aku menghapus beberapa foto di instagram pun teman-teman beranggapan
yang bukan-bukan. Benar saja ketika dikampus banyak teman-teman yang memandang
ku dengan tatapan aneh. Mereka seperti melihat sosokku yang baru, “aku sudah
siap akan hal ini” ucapku dalam hati.
“ciye ada ibu Ustadzah”
“Ustadzah Faraaa”
“cihuyy sudah taubat nih”
“Alhamdulillah sudah dapat hidayah”
Banyak perkatan teman-teman yang
entah apa niatnya tetapi membuatku merasa sedikit sedih dan kepikiran dengan
perkataan mereka.
“Assalamualaikum Ustadzah Fara,
kursinya kosong kan? Aku duduk disini ya?”
“Waalaikumsalam, duduk aja Den.
Ikut-ikutan ngejek aku juga?”
“siapa yang ngejek? Ngak boleh
berburuk sangka”
“iya maaf”
“Jadi sudah pensiun sama Oppa-Oppa
nih?”
“Insya Allah, doain ya Den.”
“iya, berarti sekarang Oppa Lee Min
Ho nya punya aku ya?”
Aku hanya menatap Dena dan
menganggukan kepala, sebenarnya aku berharap dia bisa lebih mendukung dengan
pilihan ku yang sekarang. Tetapi seperti inilah yang aku dapatkan.
Akhir-akhir ini aku juga sering
membagikan postingan dan status di whastapp tentang agama, tak jarang juga aku
mendapatkan balasan yang tak mengeenakkan.
“Sok
Alim”
“Sok
Suci”
“merasa
paling benar aja”
“yakin
hidupnya udah bener”
“dasar
emak-emak”
“ingat
dosa loe masih banyak”
“perempuan
pensiun”
“kena
penyakit kali nih makanya taubat”
“baru
hijrah sebentar sudah merasa paling benar”
Itu adalah secuil dari komentar
yang aku dapatkan. Walaupun tak sedikit juga yang akhirnya membela dan
membuatku merasa lebih kuat. Teman-teman yang dulu nya satu geng sekarang
sedikit demi sedikit mulai menghilang, saat ada pembagian kelompok aku bahkan
kesusahan mencari teman, bahkan saat jalan-jalan atau nongkrong mereka tak akan
mengajakku. Aku mencoba berpikir positif mungkin saja mereka merasa tidak enak
dan tak ingin mengajakku untuk menghabiskan waktu yang sia-sia, karena tak
jarang juga aku menolak ajakan mereka.
Tetapi ada 1 kejadian yang
membuatku sangat kecewa, waktu itu di toilet kampus aku tak sengaja
mendengarkan pembicaraan teman-teman.
“Fara sekarang udah berubah ya?”
“iya, jadi gak asik. Benar-benar
kayak ustadzah”
“iya, sok suci lagi, padahal yang
paling gila dengan drama korea kan dia.”
“Iya dia kan emang ratunya, pakaian
dia aja yang selalu modis dan paling seksi kalau kita nongkrong”
“kalau dia seperti ini susah juga
kita kalau mau jajan minum ngak ada yang bayarin”
“iya betul banget. Cowok-cowok juga
gk mau ke club kalau kita ngak ngajak Fara”
“Den, kamu kan yang paling dekat
sama dia, coba deh bujuk Fara biar mau ke club lagi bareng kita.”
“sabar perlu proses dong. Untuk
sementara kita jauhin aja dia, biar dia merasa kesepian. Nanti bakal kembali
lagi sama kita, dengan dia mau balik lagi sama kita nah itu kesempatan kita
buat ngerayakan nya di club, gimana?”
“mantap Den, loe emang cerdas”
“iya dong, Dena gitu”
Mereka asik tertawa tanpa
mengetahui aku mendengarkan pembicaraan mereka, teman bahkan sahabat yang aku
percayai selama ini hanya memanfaatkan ku, bahkan dengan gampang dan tanpa
merasa bersalah mereka membicarakan ku. saat itu aku mulai menjaga jarak dengan
Dena, aku mengira dia akan selalu berada di samping ku dan mendukung
keputusanku, ternyata dia hanya seekor kutu yang dengan nikmat menghisab darah
ku kapan pun dia mau.
Allah berkata di Quran Surah
Al-Baqarah Ayat 155 Juz 2
“Dan kami pasti akan menguji kamu
dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.
Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”
Jika tidak mengingat surah ini
mungkin saja saat ini aku sudah kembali kekehidupan ku yang telah lalu.
Berbulan-bulan, bertahun-tahun
hingga akhirnya aku lulus kuliah S1, aku masih bisa bertahan di jalan pilihan
ku. walaupun yang aku alami tak semudah yang aku bayangkan. Berkali-kali aku
menangis dengan apa yang telah aku alami. Komentar dari orang-orang yang tak
mengenakkan, orang-orang yang menjauhi ku, perlakuan yang berbeda yang aku
dapatkan. Bahkan tak jarang terang-terangan aku di katakan sebagai manusia sok
suci. Setelah menyeselsaikan S1 dan wisuda orangtua ku menawari untuk melanjutkan
profesi selama 1 tahun, tetapi tekatku telah bulat aku lebih memilih S2 di
Mesir. Kedua orangtua ku akhirnya luluh dan mengizinkan aku untuk melanjutkan
studi di Mesir.
“Fara, anak kakek akan menikah
bulan depan. Acara pernikahan akan di laksanakan di tempat calon istrinya, dia
anak ustadz Abdullah. Nur Syifa Abdullah. Kamu kenal kan?”
Seperti tersambar gledek di siang
bolong, itulah perasaan yang aku rasakan, bagaimana mungkin selama ini aku
mendambakan bisa berjodoh dengan seorang anak ustadz yang pastinya telah
dipersiapkan jodoh oleh orangtuanya yang terbaik. Nur Syifa Abdullah adalah
anak seorang ustadz yang juga terkenal, parasnya yang cantik dan meneduhkan, suarnya
yang sangat indah, tutur katanya yang lemah lembut. Bahkan dia beberapa kali
memenangkan kejuaraan membaca Quran. Jika dibandingkan denganku sangat jauh berbeda.
Aku sangat berada jauh di bawahnya.
Bersambung…
Komentar
Posting Komentar