Langsung ke konten utama

4. COBAAN


#Coretan

Kamar itu menjadi saksi kajaiban apa yang telah aku rasakan waktu itu. Hati yang dulunya selalu dalam kegelisahan dan mencari ketenangan dengan cara yang salah sekarang menjadi damai bahkan hanya di sebuah kamar tak perlu aku pergi kepantai atau naik gunung untuk mencari kedamaian. Pandangan ku akan dunia yang selama ini menjadi prioritas utama berubah seakan-akan dunia tak jauh berbeda dengan stasiun kereta hanya menunggu giliran maka aku akan pergi dari dunia ini tanpa bisa meminta toleransi walaupun hanya 1 detik.

Aku memeluk ibu dengan sangat erat, menangis sejadi-jadinya dan aku meminta maaf kepadanya, dia adalah tiket untuk aku bisa ketempat terbaik tetapi selama ini aku di butakan oleh indahnya keadaan yang aku kira akan bertahan selamanya. Dia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling baik yang pernah ada, bahkan tak ada seorang anak yang mampu membalas semua pengorbanan ibunya.

Aku mencoba menjelaskan semua nya kepada ibuku, dan aku meminta maaf kepadanya dan meminta agar dia bisa memaafkanku dan mau membantuku memperbaiki diriku, ibu hanya menangis dan berkata “Seorang ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya dan tanpa anaknya meminta maaf pun seorang ibu akan selalu memaafkan kesalahan anaknya”. Perkataan ibu membuatku makin menangis.

Ketika aku menangis dengan ibuku di kamar tanpa kami ketahui ternyata ayah saat itu mendengarkan pembicaraan kami, ayah meneteskan air mata dan pergi kekamarnya untuk sujud syukur dengan kejadian yang telah terjadi. Hari itu sungguh haru, saat hari itu juga aku memutuskan untuk menutup auratku menghapus semua foto di sosial media yang memperlihatkan auratku, bahkan aku mengunfollow semua artis dan aktor korea yang aku ikuti di instagram. Aku juga mencoba mengikuti ulama-ulama, ustad dan ustadzah dan akun-akun yang bisa membantuku dalam merubah diriku menjadi lebih baik lagi. aku mencoba lebih banyak belajar kajian di youtube dari ustadz-uztadz terkenal Indonesia seperti Ustadz Adi Hidayat, Hanan Attaki, Abdul Somad, Felix Siauw dan yang lainnya. Aku mulai memperbaiki bacaan Quran ku, Aku juga belajar Bahasa Arab karena ingin lebih memahami Quran dan ingin melanjutkan S2 ke Mesir. Banyak perubahan yang aku alami semenjak hari itu. Bahkan hariku lebih banyak aku habiskan di kamar mencoba sholat tepat waktu, memperbanyak amalan ketika pagi, petang, malam dan setelah sholat, mulai mencoba puasa sunnah dan sholat sunnah.

Perubahan tak akan bertahan lama jika hanya dilandasi dengan semangat. Semangat bagaimana pun lama-kelamaan bisa saja menurun bahkan menghilang. Iman seseorang memang selalu naik-turun apalagi bagi seorang yang baru sepertiku, terkadang aku mulai bosan, bangun pagi pukul 3, mandi, sholat tahajud, membaca Quran hingga waktu sholat subuh tiba, membaca zikir pagi, membersihkan kamar, sarapan, belajar bahasa arab yang tidak gampang, sholat dhuha, membaca sejarah para Nabi dan Sahabat, sholat dzuhur, makan siang, mendengarkan dan mencatat kajian lewat youtube, mandi, sholat ashar, dzikir sore, membaca quran hingga sholat magrib, sholat isya, dzikir sebelum tidur. lalu tidur. itu kegiatan yang aku lakukan selama 1 bulan lebih. Dan tentu saja aku hanya manusia biasa yang pernah mengalami bosan.

Satu hal yang aku ingat ketika aku mulai menyerah memperbaiki diri adalah aku tidak ingin kelak mendapatkan jodoh yang akhirnya sama sepertiku, aku ingin mendapatkan jodoh yang jika bisa jauh lebih baik dari aku hingga dia kelak dapat menuntun ku dan anak-anakku ke Surga. Anggap saja standar suami idamanku adalah Harun. Dengan alasan dan niat tersebut maka semangatku kembali mungcul dan akhirnya membawaku untuk tetap dalam ketaatan.

***

Waktu liburan kuliah telah belakhir, aku harus kembali ke kota untuk melanjutkan kuliah dan berpisah dengan kedua orangtua ku. “Fara, nanti ke kota hari minggu saja ya, bareng sama kakek. Soalnya kakek juga harus mengantar Harun dan Rahman ke pesantren” perkataan ayahku membuat aku sangat kaget. Jadi aku akan satu mobil dengan Harun dan bersama-sama pergi ke Kota. “kalau aku berankat bareng kakek berarti ayah sama ibu tidak ikut kekota dong?” tanya ku sedikit agak sedih. Karena ayah dan ibu sudah berjanji akan mengantarkan aku.

“maaf ya, ayah ada kerjaan jadi tidak bisa, nanti kami akan menjenguk kamu. Malam minggu nanti kita kerumah kakek, minggu paginya kamu akan berangkat ke kota. Tetapi kamu ikut dulu ke pesantren untuk mengantar Harun dan Rahman”

Sejak pertemuanku dengan Harun dirumah kakek jujur aku menaruh rasa kepadanya dan ini adalah kesempatan besar untuk aku dapat lebih lama bersamanya. Dan aku juga akan pergi kepesantren tempat dimana Harun menuntut ilmu, sungguh senang rasanya.

Waktu itu akhirnya tiba, aku kali ini kembali bertemu dengan Harun, dapat melihat dia dengan jarak yang lumayan dekat, dapat mendengarkan indah suaranya, dapat melihat perilakunya yang ternyata sangat sopan dan baik kepada siapapun. Di perjalanan yang tidak sebentar tak banyak ku lihat dia berbicara dia hanya fokus pada Kitab yang dia baca, entah Kitab apa itu berwarna kecoklatan dan bertulisan arab sehinngga aku tak mengetahuinya, dia bahkan tak pernah memangang handphone saat diperjalanan, akhirnya aku paham mengapa waktu itu pesanku sangat lama ia balas. Sesampainya di pesantren ku lihat banyak santri laki-laki yang menggunakan sarung untuk pakaian bawah meraka, menggunakan baju berlengan panjang untuk atasannya dan memakai peci. Serta sebuah kitab di tangannya yang bertulisan bahasa arab. Ini bahkan pemandangan yang tak pernah aku lihat seumur hidupku. Ketika aku keluar mobil mereka semua bahkan tak berani menatapku, jika menatap pun hanya sebentar dan langsung menundukkan pandangan. Sangat jauh berbeda jika aku pergi ketempat lain. Karena tidak enak berlama-lama akhirnya aku segera kembali masuk ke mobil kakek, dan supir kakek mengatarkan ku ketempat aku tinggal sekitar 2 jam perjalanan.

Aku merindukan teman ini ku lihat dinding kontrakan yang juga terpenuhi dengan poster-poster idol korea dan foto-foto mereka. Ku lihat rak buku yang berisikan album-album idol korea, novel romantis, dan puisi-puisi cinta. Ku buka lemari pakaian yang berisikan baju-baju yang dapat mengumbar auran. “ah, aku pikir aku dapat cepat beristirahat setelah lelah di perjalanan, ternyata masih banyak yang aku kerjakan.” Aku msedikit mengeluh sembari membersihkan kontarakanku. Sekitar 1 jam lebih aku juga belum selesai membersihkan, akhirnya aku memutuskan untuk istirahat dan memesan burger kesukaanku.

Keesokan harinya perkuliahan dimulai, untuk pertama kalianya aku menggunakan pakaian berbeda kekampus, aku menggunakan gamis yang panjang dan menggunakan khimar yang menutup bagian dada. Awalnya aku sangat tidak terbiasa, jika selama libur dirumah saja tak masalah aku berpenampilan seperti itu tetapi ketika di kampus maka akan berbeda ceritanya, aku menghapus beberapa foto di instagram pun teman-teman beranggapan yang bukan-bukan. Benar saja ketika dikampus banyak teman-teman yang memandang ku dengan tatapan aneh. Mereka seperti melihat sosokku yang baru, “aku sudah siap akan hal ini” ucapku dalam hati.

“ciye ada ibu Ustadzah”

“Ustadzah Faraaa”

“cihuyy sudah taubat nih”

“Alhamdulillah sudah dapat hidayah”

Banyak perkatan teman-teman yang entah apa niatnya tetapi membuatku merasa sedikit sedih dan kepikiran dengan perkataan mereka.

“Assalamualaikum Ustadzah Fara, kursinya kosong kan? Aku duduk disini ya?”

“Waalaikumsalam, duduk aja Den. Ikut-ikutan ngejek aku juga?”

“siapa yang ngejek? Ngak boleh berburuk sangka”

“iya maaf”

“Jadi sudah pensiun sama Oppa-Oppa nih?”

“Insya Allah, doain ya Den.”

“iya, berarti sekarang Oppa Lee Min Ho nya punya aku ya?”

Aku hanya menatap Dena dan menganggukan kepala, sebenarnya aku berharap dia bisa lebih mendukung dengan pilihan ku yang sekarang. Tetapi seperti inilah yang aku dapatkan.

Akhir-akhir ini aku juga sering membagikan postingan dan status di whastapp tentang agama, tak jarang juga aku mendapatkan balasan yang tak mengeenakkan.

“Sok Alim”

“Sok Suci”

“merasa paling benar aja”

“yakin hidupnya udah bener”

“dasar emak-emak”

“ingat dosa loe masih banyak”

“perempuan pensiun”

“kena penyakit kali nih makanya taubat”

“baru hijrah sebentar sudah merasa paling benar”

Itu adalah secuil dari komentar yang aku dapatkan. Walaupun tak sedikit juga yang akhirnya membela dan membuatku merasa lebih kuat. Teman-teman yang dulu nya satu geng sekarang sedikit demi sedikit mulai menghilang, saat ada pembagian kelompok aku bahkan kesusahan mencari teman, bahkan saat jalan-jalan atau nongkrong mereka tak akan mengajakku. Aku mencoba berpikir positif mungkin saja mereka merasa tidak enak dan tak ingin mengajakku untuk menghabiskan waktu yang sia-sia, karena tak jarang juga aku menolak ajakan mereka.

Tetapi ada 1 kejadian yang membuatku sangat kecewa, waktu itu di toilet kampus aku tak sengaja mendengarkan pembicaraan teman-teman.

“Fara sekarang udah berubah ya?”

“iya, jadi gak asik. Benar-benar kayak ustadzah”

“iya, sok suci lagi, padahal yang paling gila dengan drama korea kan dia.”

“Iya dia kan emang ratunya, pakaian dia aja yang selalu modis dan paling seksi kalau kita nongkrong”

“kalau dia seperti ini susah juga kita kalau mau jajan minum ngak ada yang bayarin”

“iya betul banget. Cowok-cowok juga gk mau ke club kalau kita ngak ngajak Fara”

“Den, kamu kan yang paling dekat sama dia, coba deh bujuk Fara biar mau ke club lagi bareng kita.”

“sabar perlu proses dong. Untuk sementara kita jauhin aja dia, biar dia merasa kesepian. Nanti bakal kembali lagi sama kita, dengan dia mau balik lagi sama kita nah itu kesempatan kita buat ngerayakan nya di club, gimana?”

“mantap Den, loe emang cerdas”

“iya dong, Dena gitu”

Mereka asik tertawa tanpa mengetahui aku mendengarkan pembicaraan mereka, teman bahkan sahabat yang aku percayai selama ini hanya memanfaatkan ku, bahkan dengan gampang dan tanpa merasa bersalah mereka membicarakan ku. saat itu aku mulai menjaga jarak dengan Dena, aku mengira dia akan selalu berada di samping ku dan mendukung keputusanku, ternyata dia hanya seekor kutu yang dengan nikmat menghisab darah ku kapan pun dia mau.

Allah berkata di Quran Surah Al-Baqarah Ayat 155 Juz 2

“Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”

Jika tidak mengingat surah ini mungkin saja saat ini aku sudah kembali kekehidupan ku yang telah lalu.

Berbulan-bulan, bertahun-tahun hingga akhirnya aku lulus kuliah S1, aku masih bisa bertahan di jalan pilihan ku. walaupun yang aku alami tak semudah yang aku bayangkan. Berkali-kali aku menangis dengan apa yang telah aku alami. Komentar dari orang-orang yang tak mengenakkan, orang-orang yang menjauhi ku, perlakuan yang berbeda yang aku dapatkan. Bahkan tak jarang terang-terangan aku di katakan sebagai manusia sok suci. Setelah menyeselsaikan S1 dan wisuda orangtua ku menawari untuk melanjutkan profesi selama 1 tahun, tetapi tekatku telah bulat aku lebih memilih S2 di Mesir. Kedua orangtua ku akhirnya luluh dan mengizinkan aku untuk melanjutkan studi di Mesir.

“Fara, anak kakek akan menikah bulan depan. Acara pernikahan akan di laksanakan di tempat calon istrinya, dia anak ustadz Abdullah. Nur Syifa Abdullah. Kamu kenal kan?”

Seperti tersambar gledek di siang bolong, itulah perasaan yang aku rasakan, bagaimana mungkin selama ini aku mendambakan bisa berjodoh dengan seorang anak ustadz yang pastinya telah dipersiapkan jodoh oleh orangtuanya yang terbaik. Nur Syifa Abdullah adalah anak seorang ustadz yang juga terkenal, parasnya yang cantik dan meneduhkan, suarnya yang sangat indah, tutur katanya yang lemah lembut. Bahkan dia beberapa kali memenangkan kejuaraan membaca Quran. Jika dibandingkan denganku sangat jauh berbeda. Aku sangat berada jauh di bawahnya.

Bersambung…


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BAGAIMANA SEHARUSNYA MENCINTAI SESEORANG ?

Part 1 “Bagaimana seharusnya mencintai seseorang ?” Jawaban dari pertanyaan tersebut pasti berbeda dari setiap orang. Ada yang mengatakan kita harus berkorban untuk seseorang yang kita cintai, kita harus membuatnya bahagia, kita harus menjadi diri sendiri, kita boleh menjadi orang lain, kita juga harus mementingkan diri kita, kita boleh tersakiti, tidak apa-apa jika kita yang terluka, mencintai seseorang juga harus rela jika suatu saat dia dengan orang lain.  Dari sekian banyak jawaban dari semua orang lantas bagaimana seharusnya mencintai seseorang menurut saya ? Aku sudah banyak menerima pengalaman mencintai bahkan dicintai selama ini. Rasanya menjawab pertanyaan tersebut hanya dengan 1 pandangan dan 1 pengalam mencintai saja tidak akan cukup, jawaban pertanyaan ini sangat beragam bukan? Bahkan saya juga bingung apa jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan tersebut. Tapi jika saya tetap harus menjawab maka bagaimana seharusnya mencintai seseorang dari saya...

REZEKI SETIAP MANUSIA

Aku sangat ingat hari itu, terbangun di pagi hari dan tiba-tiba terlintas dipikiran “di rumah setiap hari, pengeluaran terus berjalan. Tetapi pemasukan sama sekali tidak ada”. Pada pagi itu juga aku memutuskan untuk berjualan, jualan naget-naget yang digoreng dan pop ice di depan rumah. Pagi itu aku sangat bersemangat. Bangun, mandi dan bersiap-siap membeli bahan-bahan untuk berjualan. Hari pertama, kedua dan ketiga Alhamdulillah berjalan dengan lancer dan cukup rami. Pada hari keempat tetangga aku juga jualan yang sama, awalnya aku biasa aja. Tapi secara sadar atau tidak sadar ini adalah keadaan dimana aku “terancam” kenapa demikian ? bukankah dia adalah saingan ? ketika A adalah sesuatu yang di butuhkan oleh 20 orang dan hanya bisa di dapatkan di aku maka 20 orang tersebut sudah pasti akan datang ke aku, iya kan ? tapi ketika A bisa di dapatkan selain di tempat ku maka 20orang tersebut belum pasti akan ke aku semuakan ? “Apasih gtu aja lebay banget, kan rezeki setiap orang beda...

RAMADHAN YANG BERBEDA

Seperti yang semua orang ketahui ramadhan kali ini akan jauh berbeda dengan yang sebelumnya. Dari sekian banyak keluhan yang orang lain rasakan aku hanya ingin membahas tentang betapa bersyukurnya aku tahun ini. Setelah beberapa tahun aku tidak bisa menghabiskan waktu ramadhan bersama keluarga, akhirnya tahun ini satu bulan penuh aku akan menghabiskannya dengan keluarga ku. Mungkin ini juga pembelajarn yang dapat kita ambil bahwa kita harus bisa lebih bersyukur dan lebih memberikan waktu berkumpul dengan keluarga tidak hanya mementingkan pekerjaan masing-masing. Jika biasanya aku sahur di kost kostan kadang sendiri atau dengan teman akhirnya tahun ini aku bisa sahur dan berbuka bersama keluarga ku. sholat berjamaah juga salah satu hal yang sangat amat aku rindukan.  Berbicara dengan mereka, bercanda dengan mereka, bahkan memberitahu kesedihan masing-masing adaalah hal yang paling aku sukai. Bisa bersama dengan keluarga akan membuat kita lebih bersyukur dan sadar. ...