Langsung ke konten utama

2. LAKI – LAKI BERPECI PUTIH


#coretan

Aku berjalan memasuki rumah mendatangi sumber suara ibu yang memanggilku. Ku lihat dua orang wanita sedang duduk membersihkan sayuran. Aku berjalan menghampiri mereka “ada apa ma?”

“cepat mandi, setelah mandi bantu memasak untuk makan malam”

Aku mengganggukkan kepala tanda bahwa aku mengerti perkataan ibu ku. Kuambil handuk dan pakaian ganti. Selepas mandi aku memakai abaya berwarna biru dengan motif bunga melati kecil disekitar pergelangan tangan, serta ku kenakan khimar kesayanganku yang juga berwarna biru gelap. Ku ambil lipbam dan sedikit ku oleskan pada bibirku agar tidak terlihat kering. “pakai parfum gk ya?” tanya ku pada diriku sendiri. Aku agak berhati-hati ketika dirumah kakek karena beliau adalah seseorang yang sangat terkenal akan agamanya dan jarang sekali  rumah beliau kosong tanpa seorang tamu yang berkunjung, entah hanya sekedar silaturahmi atau meminta pendapat beliau akan sesuatu. Akhirnya aku mengurungkan niat untuk menggunakan parfum kesayanganku. Ku lihat berulang kali diriku di cermin ku amati dari ujung kepala hingga ujung kaki, karena aku takut ada sesuatu yang salah dan itu menjadi teguran oleh beliau. Setelah beberapa kali ku lihat dan aku merasa sudah yakin dengan penampilanku barulah aku keluar dan membantu memasak didapur.

“mau masak apa ma?”

“Masak rawon”

“apa yang perlu aku bantu”

“kamu persiapkan toge nya saja, toge nya masih dalam kulkas”

Aku mendekati kulkas dan kubuka, ku cari perlahan dari bagian atas hingga bawah tapi tak kunjung aku temukan, ku cari kembali tetap saja tidak ketemu. “ma, toge nya tidak ada”

“ada, tadi mama letakkan di kulkas”

“tidak ada ma”

Ibu ku berjalan kearah kulkas mengambil Tupperware berwarna hijau. Dan membuka Tupperware terserbut sembari berkata “ini apa? Makanya lain kali coba cari yang benar, cepat cuci” sembari meletakkan Tupperware itu ditanganku. Bagaimana mungkin toge ini ada didalam kulkas sedangkan aku sudah berulang kali mencarinya. Ibu ku memang hebat, ini bukan kejadian pertama kalinya tidak hanya urusan sayur, makanan, pakaian, buku bahkan barang pribadi ku ibu lah yang lebih tau letak penyimpanannya. Sembari mencuci toge aku teringat akan handphone yang sejak di perjalanan telah aku matikan, bagaimana jika ada hal penting di grup kampus atau ada yang sedang mencari ku. aku cepat-cepat membersihkan toge dan pergi ke kamar untuk mencek handphone, benar saja saat handphone menyala banyak sekali pesan di grup dan ada bebarapa panggilan whatsapp.

“teman-teman besok kita ada ujian evaluasi ya, 25 soal, waktunya 25 menit.”

“minta keringanan dengan dosen dong, waktunya lebihin.”

“iya nih, jaringan di tempat ku susah, nanti kalau lelet gk sempat ngejawab”

“oke, nanti aku tanyakan ke dosen yah”

“oke, terimakasih”

“terimakasih”

Aku menghela napas, besok lagi-lagi harus ada ujian. Apakah hidup ini memang selalu penuh dengan ujian. Dari sekolah sampai kuliah pun sering dapat ujian, belum lagi ujian hidup apalagi ada ujian dadakan, misalnya lagi suka sama seseorang tapi dianya suka sama orang lain. Kan ujiannya lebih berat.

Jariku berpindah dari menekan chat sekarang menekan panggilan untuk melihat panggilan siapa yang tak sempat ku jawab. 3 kali panggilan tak terjawab dari Sakti Yuda dan 2 kali panggilan tak terjawab dari Dena. “Ngapain lagi sih ni cowok nelpon segala, sudah puas sama si cewek itu sekarang giliran aku lagi? dasar cowok plin-plan. Susah banget yah memilih diantara dua orang cewek.” Aku menggerutu dengan kesal. Bagaimana tidak tadi malam dia menghilang dan menghabiskan waktu dengan cewek lain, sekarang dengan tidak tau malu menghubungi ku. aku pun tidak menghiraukan panggilannya dan mencoba menelpon Dena.

“Hallo Den, Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam, Kemana aja si, ngak ada kabar, besok ujian udah belajar?”

“Badmood gue, belum lah emang loe udah?”

“badmood terus, pasti gara-gara cowok itu lagi, ketua BEM kan? Cowok seperti dia emang banyak cewek nya. Udahlah nanti juga loe luluh lagi. Malam ini gue telpon kita belajar bareng ya.”

“Makanya doa’in teman loe ini biar cepat dapat penggantinya. Sorry gak bisa gue, lagi di rumah kakek soalnya, pada ngumpul keluarga.”

“iya di doa’in. masa ngak bisa sih, bentar aja oke? Pokoknya jam 10 nanti malam gue telpon. Bye.”

Klik. Telpon mati

“Waalaikumsalam”

Dasar ni anak nutup telpon gak pamitan gk bilang salam lagi.

Bunyi telpon.

Aku melihat kearah telpon ternyata ada panggilan video dari Sakti Yuda. Angkat atau enggak yah, angkat aja deh siapa tau penting.

“Beb, kemana aja sih? Aku telpon ngak aktif, aku lagi sakit tau. Kangen juga sama kamu” Sakti memang cowok romantis, manis dan penuh perhatian. Sejak 9 tahun kami berkenalan sangat banyak cewek yang tertarik dengan sikap dan paras tampannya. Tak jarang juga pertemanan atau persahabatan para wanita hancur hanya karena memperebutkan hatinya. Dan benar kata Dena bahwa aku pastinya dan akan selalu luluh terhadapnya.

“ya iyalah sakit, tidur larut malas terus. Cepat sana minum obat terus istirahat.”

“Hee, kamu tau aja, ya udah aku istirahat yah. Bye. I love You.”

Aku menutup telpon tanpa membalasnya. Sekuat apapun benteng pertahanan yang aku telah persiapkan selalu runtuh karena kata-kata manisnya. Sekuat apapun tekat yang telah aku persiapkan tetap akan kalah dengan senyumannya. Entah sihir apa yang ada pada wajah dan kata-katanya sehingga membuat aku selalu tak berdaya. Wajar saja, dia adalah seseorang yang sangat bisa membuat hati perempuan manapun bergelonjak, matanya yang berwarna agak kecoklatan, hidungnya yang sangat mancung, rahangnya yang sangat menarik, bibirnya yang tipis, dadanya yang bidang, tubuhnya yang sangat tinggi dan senyuman manisnya yang luar biasa indah. Itu hanya terpancar dari penglihatan saja, belum lagi ketika benar-benar berada dekat dengannya. Perilakukanya yang perhatian, tampak tegas dan bertanggung jawab jika di hadapan teman-temannya tetapi akan sangat manja jika hanya dihadapan satu perempuan, dan sikap homurisnya yang selalu membuat perempuat senang serta terhibur. Rasanya tidak terdapat satu kekuranganpun padanya, hanya saja dia terlalu banyak dekat dengan perempuan. Tidak itu bukan kekurangan tapi adalah kelebihan dari seorang laki-laki sepertinya.

Tok tok tok..

Terdengar suara ketukan pintu, “ada apa?”

“kata kakek keluar sebentar.” Jawab seseorang laki-laki dibalik pintu, suaranya terdengar tegas tetapi juga lembut. Seperti tidak asing tetapi aku juga tak mengenalinya. “oh iya”. Aku meletakkan handphone dan berjalan menuju arah pintu. Ketika aku membuka pintu tidak ada seseorangpun, mungkin dia sudah pergi. Aku berjalan keruang tamu, ku lihat kakek sedang duduk santai dengan menikmati kopi. Aku mendekati beliau dan duduk di kursi tak jauh di samping kakek.

“Fara, kuliahnya sudah semester berapa?

“Semester 6 kek”

“Sebentar lagi lulus ya. Rencananya mau lanjut kemana ?”

“Masih 2 tahun kalau sama profesinya. Maunya ke Mesir he”

“Jangan jauh-jauh, kasihan orang tua di tinggal terus. Kalau mau nikah kapan? Sudah punya calon?”

Memang benar kata kakek sejak SMP aku sudah tidak tinggal bersama orang tua sampai sekarang rasanya sudah 9 tahun aku tak tinggal bersama mereka. Tetapi pertanyaan kapan nikah adalah pertanyaan yang paling aku benci selama ini. Bagaimana mungkin semua orang yang aku kenal selalu menanyakan pertanyaan yang sama. Jangankan kalian yang bertanya diriku sendiri saja tidak tahu kapan aku akan menikah.

“Belum ada niat untuk menikah kek, calon juga belum kepikiran”

“Syukurlah kalau begitu. Paling lama 7 tahun lagi kamu baru menikah kakek sudah memiliki calon kalau kamu mau.”

Sontak mataku menatap kearah kakek dengan tatapan kaget dan bingung. Aku memang tidak ada niatan menikah sekarang, tapi bagaimana mungkin kakek mempersiapkan calon dan aku harus menunggu 7 tahun lagi. umurku sekarang sudah kepala 2. Aku tak menjawab pertanyaan kakek. Kakek tetap santai menikmati kopi nya tanpa sadar bagaimana kaget nya aku.

***

Ketika makan malam aku masih teringat akan ucapan kakek, siapa yang kakek maksud. Mengapa kakek mempersiapkan pasangan untukku padahal beliau bukan kakek kandungku hanya kakek angkat karena ayah ku berangkat ayah kepada beliau karena belia adalah seorang ustadz yang sangat terkenal di wilayah itu bahkan memiliki pesantren yang cukup besar.

“Fara, nanti kita shalat isya di mushola ya”

“Iya ma"

Setelah selesai makan malam aku membantu membersihkan meja makan dan mencuci piring. Tak terasa azan berkumandang terdengar suara seseorang yang sangat merdu. Suara nya mampu membuat hati ini tenang. “subhanallah, semoga kelak aku diperjodohkan dengan seseorang yang suaranya merdu seperti ini”.

Keesokan harinya.

Di balik jendela kurasakan nikmatnya pagi  yang sangat indah, udara segar, suara burung yang berkicauan, dan harumnya masakan didapur menambah pagi itu menjadi lebih indah. Sayang rasanya jika pagi seindah ini hanya kau nikmati di dalam kamar, aku mengambil khimar memasangnya perlahan dan berjalan keluar rumah untuk  menikmati pagi ini. Karena aku belum mencuci muka maka aku putuskan untuk ketempat wudhu disamping mushola. Samar-samar aku mendengar lantunan ayat suci Quran di bacakan.

Fa bi ayyi ala’i rabbikuma tukkazziban

Tabarakasmu rabbika zil-jalali wal-ikram

(Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?

 Mahasuci nama Tuhanmu pemilik Keagungan dan Kemuliaan)

(Q.S Ar-rahman ayat 77 - 78)

Iza waqa’atil-waqiah

Laisa liwaq’atiha kazibah

Khafidatur rafi’ah

(Apabila terjadi hari Kiamat,

Terjadinya tidak dapat didustakan (disangkal).

(kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain) )

(Q.S Al-waqiah ayat 1-3)

Aku memasuki mushola untuk mendengarkan lebih jelas lantunan ayat Suci yang dibacakan. Ku lihat seseorang laki-laki dengan peci putih dan bergamis biru polos itu yang sedang menbaca ayat Suci tersebut. Aku tertegun dengan bacaannya seketika terlintas dalam ingatanku ini adalah suara yang persis sama dengan yang tadi malam melantunkan azan. Siapa laki-laki itu ? tidak mungkin jika dia orang luar yang tiba-tiba membaca ayat Suci pagi-pagi di sini. Ketika dia telah selesai, aku pun keluar mushola untuk melihatnya dengan jelas. “permisi” ucapku perlahan. Dia segera membalikkan badannya kerah ku, sekarang aku dapat melihat wajahnya dengan sangat jelas. Laki-laki yang sangat tinggi kira-kira sekitar 178 cm, berbadan gagah, berkulit putih, pandangannya yang teduh, senyumannya yang begitu indah. Sayangnya aku tak dapat melihat mata nya dengan jelas karena seketika melihatku dia segera menundukan pandangannya. Aku yang fakir ilmu ini tetap memandanginya dengan lekat seperti melihat idol korea, tidak dia lebih enak di pandang dari pada idol korea, ketika idol membuat ku menjerit dan dadaku terasa penuh sedangkan dia meneduhkan pandangan dan membuat jantung ini lebih kencang berdetak.

“ada apa Fara ?” seketika suara nya yang begitu indah menyadarkanku. Aku beberapa kali mengedipkan mata dan aku kaget bagaimana mungkin dia mengetahui nama ku. “kamu?” aku mengenalinya dia adalah seseorang yang rela memasuki kolam ikan pada malam hari untuk mengambilkan handphone ku.

 

Bersambung..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BAGAIMANA SEHARUSNYA MENCINTAI SESEORANG ?

Part 1 “Bagaimana seharusnya mencintai seseorang ?” Jawaban dari pertanyaan tersebut pasti berbeda dari setiap orang. Ada yang mengatakan kita harus berkorban untuk seseorang yang kita cintai, kita harus membuatnya bahagia, kita harus menjadi diri sendiri, kita boleh menjadi orang lain, kita juga harus mementingkan diri kita, kita boleh tersakiti, tidak apa-apa jika kita yang terluka, mencintai seseorang juga harus rela jika suatu saat dia dengan orang lain.  Dari sekian banyak jawaban dari semua orang lantas bagaimana seharusnya mencintai seseorang menurut saya ? Aku sudah banyak menerima pengalaman mencintai bahkan dicintai selama ini. Rasanya menjawab pertanyaan tersebut hanya dengan 1 pandangan dan 1 pengalam mencintai saja tidak akan cukup, jawaban pertanyaan ini sangat beragam bukan? Bahkan saya juga bingung apa jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan tersebut. Tapi jika saya tetap harus menjawab maka bagaimana seharusnya mencintai seseorang dari saya...

REZEKI SETIAP MANUSIA

Aku sangat ingat hari itu, terbangun di pagi hari dan tiba-tiba terlintas dipikiran “di rumah setiap hari, pengeluaran terus berjalan. Tetapi pemasukan sama sekali tidak ada”. Pada pagi itu juga aku memutuskan untuk berjualan, jualan naget-naget yang digoreng dan pop ice di depan rumah. Pagi itu aku sangat bersemangat. Bangun, mandi dan bersiap-siap membeli bahan-bahan untuk berjualan. Hari pertama, kedua dan ketiga Alhamdulillah berjalan dengan lancer dan cukup rami. Pada hari keempat tetangga aku juga jualan yang sama, awalnya aku biasa aja. Tapi secara sadar atau tidak sadar ini adalah keadaan dimana aku “terancam” kenapa demikian ? bukankah dia adalah saingan ? ketika A adalah sesuatu yang di butuhkan oleh 20 orang dan hanya bisa di dapatkan di aku maka 20 orang tersebut sudah pasti akan datang ke aku, iya kan ? tapi ketika A bisa di dapatkan selain di tempat ku maka 20orang tersebut belum pasti akan ke aku semuakan ? “Apasih gtu aja lebay banget, kan rezeki setiap orang beda...

RAMADHAN YANG BERBEDA

Seperti yang semua orang ketahui ramadhan kali ini akan jauh berbeda dengan yang sebelumnya. Dari sekian banyak keluhan yang orang lain rasakan aku hanya ingin membahas tentang betapa bersyukurnya aku tahun ini. Setelah beberapa tahun aku tidak bisa menghabiskan waktu ramadhan bersama keluarga, akhirnya tahun ini satu bulan penuh aku akan menghabiskannya dengan keluarga ku. Mungkin ini juga pembelajarn yang dapat kita ambil bahwa kita harus bisa lebih bersyukur dan lebih memberikan waktu berkumpul dengan keluarga tidak hanya mementingkan pekerjaan masing-masing. Jika biasanya aku sahur di kost kostan kadang sendiri atau dengan teman akhirnya tahun ini aku bisa sahur dan berbuka bersama keluarga ku. sholat berjamaah juga salah satu hal yang sangat amat aku rindukan.  Berbicara dengan mereka, bercanda dengan mereka, bahkan memberitahu kesedihan masing-masing adaalah hal yang paling aku sukai. Bisa bersama dengan keluarga akan membuat kita lebih bersyukur dan sadar. ...