Langsung ke konten utama

MANUSIA YANG BERBEDA-BEDA



Pada dasarnya manusia memang unik, tidak ada yang persis sama antara manusia yang satu dengan yang lainnya.

Tapi pernah gk sih kalian kesal saat di beda-bedakan ?

Contohnya nih ya, kalian biasanya akan di beda-bedakan sama anak tetangga, anak keluarga kalian yang lain, bahkan di beda-bedakan dengan saudara kalian sendiri.
“coba deh lihat, anak si A rajin, anak si B pintar ibadah, tapi anak si C nakal banget.”

Bahkan ibu aku sendiri aja pernah membandingkan aku sama anak tetangga, cowok lagi.
“coba kamu itu rajin, lihat tuh si anak tetangga walaupun cowok dia mau nyapu halaman tiap pagi.”

Yang paling sering aku rasakan akhir-akhir ini adalah dibanding-bandingkan sama anak tetangga yang juga seorang mahasiswa.

“hamidah kuliahnya lama ya, 5 tahun. Buat apa juga kuliah lama-lama, coba lihat si B dia kuliah sebentar aja, tahun ini lulus, sudah punya pacar lagi, dan pacarnya itu abdi negara loh”

Impian ku dengan impian anak lain di luar sana tentu saja berbeda, aku kuliah 5 tahun juga karena jurusan kami berbeda, aku juga tidak pacaran dengan abdi negara karena cowok yang aku suka bukan abdi negara tapi oppa oppa korea (wkwkwk), jadi gk harus sama kan.

Mungkin menurut orang lain setelah selesai kuliah mereka akan menikah dan itu membuat mereka bahagia, tapi belum tentu seperti itu juga pemikiran ku.

Mungkin menurut orang lain suami abdi negara itu adalah suami idaman, tapi belum tentu seperti itu juga pemikiran ku.
Dan banyak hal lain yang harus dibeda-bedakan ataupun di banding-bandingkan. Harus banget ya ?

Bisa ngk sih kalau mau menasehati anak sendiri ataupun anak tetangga dengan cara yang lebih baik sedikit, contohnya jangan di banding-bandingkan aja deh. Karena dasarnya manusia itu emang beda-beda.

Anak kembar aja bakal berbeda bahkan mereka lahir kedunia cuman beda beberapa jam atau bahkan beberapa menit saja, apalagi saudara yang bedanya tahunan, dan apalagi anak si A sama anak si B yang ibu bapak nya aja beda. Terus ngapain mau di banding-bandingkan lagi?

Kalau si A pintar, baik, sholeh/sholehah, rajin maka si B harus demikian juga ya ? kalau iya bukankah itu “kesalahan” orang tua yang kurang bisa mendidik anak mereka menjadi demikian ? mungkin kalian akan berpikir bahwa aku anak durhaka, anak yang gk tau untung, anak  yang gk bersyukur. Itu terserah kalian.

Aku tidak menyalahkan orang tua ku dalam hal mendidik anak-anak mereka. Aku juga tidak menyalahkan orang tua lainnya di luar sana. Aku hanya menuliskan apa yang aku rasakan.

Rasanya terlalu menjengkalkan jika harus di beda-bedakan. Aku bahkan berpikir sesulit ini kah nanti jika aku menjadi seorang ibu, aku harus mendidik anak-anakku dengan baik dan benar, bukan hanya “benar” dalam persepsi aku saja, tapi “benar” dalam persepsi psikologis sesungguhnya.

Karena aku jarang dan bahkan dibilang sangat jarang tinggal bersama orang tua ku, jadi aku mengira hanya mereka yang suka membanding-bandingkan anak mereka. Tapi ternyata tidak. Banyak sekali anak-anak lainnya yang dibandingkan oleh orang tua mereka sendiri.

Mungkin sedikit pesan yang ingin aku sampaikan pada orang tua yang selalu membandingkan anak mereka dengan anak orang lain. Stop Stop Stop, tolong berhenti melakukan hal tersebut, jika kalian ingin anak kalian seperti anak orang lain didik mereka dengan benar, berikan nasehat dan berikan contohnya. Karena kebanyakan dari kalian hanya bisa menuntut anak kalian seperti ini ini dan itu, tanpa kalian sadar bahwa kalian saja tidak melakukan hal tersebut. 

Pesan untuk kalian yang akan menjadi orang tua dan diri ku sendiri. Ingat Ingat Ingat, mempunyai seorang anak bukan hanya sebuah anugrah yang seenaknya bisa kalian tuntun menjadi ini ini dan itu, tetapi mempunyai seorang anak adalah tanggung jawab selama-lamanya. Didik mereka dengan cara yang benar, berikan contoh-contoh perilaku yang benar, dan jangan pernah membandingkan mereka dengan orang lain.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

BAGAIMANA SEHARUSNYA MENCINTAI SESEORANG ?

Part 1 “Bagaimana seharusnya mencintai seseorang ?” Jawaban dari pertanyaan tersebut pasti berbeda dari setiap orang. Ada yang mengatakan kita harus berkorban untuk seseorang yang kita cintai, kita harus membuatnya bahagia, kita harus menjadi diri sendiri, kita boleh menjadi orang lain, kita juga harus mementingkan diri kita, kita boleh tersakiti, tidak apa-apa jika kita yang terluka, mencintai seseorang juga harus rela jika suatu saat dia dengan orang lain.  Dari sekian banyak jawaban dari semua orang lantas bagaimana seharusnya mencintai seseorang menurut saya ? Aku sudah banyak menerima pengalaman mencintai bahkan dicintai selama ini. Rasanya menjawab pertanyaan tersebut hanya dengan 1 pandangan dan 1 pengalam mencintai saja tidak akan cukup, jawaban pertanyaan ini sangat beragam bukan? Bahkan saya juga bingung apa jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan tersebut. Tapi jika saya tetap harus menjawab maka bagaimana seharusnya mencintai seseorang dari saya...

REZEKI SETIAP MANUSIA

Aku sangat ingat hari itu, terbangun di pagi hari dan tiba-tiba terlintas dipikiran “di rumah setiap hari, pengeluaran terus berjalan. Tetapi pemasukan sama sekali tidak ada”. Pada pagi itu juga aku memutuskan untuk berjualan, jualan naget-naget yang digoreng dan pop ice di depan rumah. Pagi itu aku sangat bersemangat. Bangun, mandi dan bersiap-siap membeli bahan-bahan untuk berjualan. Hari pertama, kedua dan ketiga Alhamdulillah berjalan dengan lancer dan cukup rami. Pada hari keempat tetangga aku juga jualan yang sama, awalnya aku biasa aja. Tapi secara sadar atau tidak sadar ini adalah keadaan dimana aku “terancam” kenapa demikian ? bukankah dia adalah saingan ? ketika A adalah sesuatu yang di butuhkan oleh 20 orang dan hanya bisa di dapatkan di aku maka 20 orang tersebut sudah pasti akan datang ke aku, iya kan ? tapi ketika A bisa di dapatkan selain di tempat ku maka 20orang tersebut belum pasti akan ke aku semuakan ? “Apasih gtu aja lebay banget, kan rezeki setiap orang beda...

RAMADHAN YANG BERBEDA

Seperti yang semua orang ketahui ramadhan kali ini akan jauh berbeda dengan yang sebelumnya. Dari sekian banyak keluhan yang orang lain rasakan aku hanya ingin membahas tentang betapa bersyukurnya aku tahun ini. Setelah beberapa tahun aku tidak bisa menghabiskan waktu ramadhan bersama keluarga, akhirnya tahun ini satu bulan penuh aku akan menghabiskannya dengan keluarga ku. Mungkin ini juga pembelajarn yang dapat kita ambil bahwa kita harus bisa lebih bersyukur dan lebih memberikan waktu berkumpul dengan keluarga tidak hanya mementingkan pekerjaan masing-masing. Jika biasanya aku sahur di kost kostan kadang sendiri atau dengan teman akhirnya tahun ini aku bisa sahur dan berbuka bersama keluarga ku. sholat berjamaah juga salah satu hal yang sangat amat aku rindukan.  Berbicara dengan mereka, bercanda dengan mereka, bahkan memberitahu kesedihan masing-masing adaalah hal yang paling aku sukai. Bisa bersama dengan keluarga akan membuat kita lebih bersyukur dan sadar. ...