Langsung ke konten utama

5. IMPIAN TERINDAH

#Coreaan

“Iya kenal yah. Tapi Fara tidak bisa datang karena bulan depan akan sangat sibuk harus ke Jakarta untuk mengurus semua keperluan ke Mesir, dan Fara juga perlu mempelajari Bahasa Arab”. Benar saja dari satu bulan kedepan hingga 6 bulan selanjutnya aku akan sangat sibuk mengurus S2 ku di Mesir dan sebenarnya ini juga salah satu alasanku untuk menghindari pernikahan tersebut. Tak sanggup rasanya jika aku hanya datang menjadi tamu undangan.

“Nanti akan ayah kirimkan foto-foto nya ya.”

“tidak perlu yah.”

Untuk melihat foto mereka bersanding berdua pun rasanya aku tak akan sanggup, lebih baik aku melupakannya dan tahu menahu dari pada aku harus tersakiti nantinya. Aku masuk kekamar, air mata mulai membasahi pipi ku. “Tuhan, selama ini aku selalu berbuat baik, aku ikhlas dengan apa yang telah engkau takdirkan untukku, selama ini juga aku menggagumi seorang laki-laki yang sudah jelas aku tahu bahwa dia sangat cocok untuk menjadi pendampingku, bahwa dia yang aku yakini pasti akan mampu membahagiakan ku,tapi mengapa, mengapa hari ini kamu memutuskan dia untuk berjodoh dengan orang lain? Apakah selama ini yang aku lakukan hanya sia-sia?” aku mengeluh kepada Tuhan, aku merasa di kecewakan. Aku menangis sejadinya. Jika semala ini cobaan yang aku terima aku masih sanggup menerimannya. Tetapi jika perkara rasa cinta ini terlalu berat aku terima. Aku mengambil handphone menghapus semua foto Harun dan keluarganya, aku menghapus nomer telpon Harun dan keluarganya bahkan nomer kakek dan aku mengunfollow instagram adik Harun, hanya dengan cara ini aku dapat melupakannya.

Allahu akbar

Allahu akbar

Terdengar suara azan dari masjid, pertanda waktunya melaksanakan sholat Ashar telah tiba, dengan mata sembab dan masih sedikit mengeluarkan air mata aku mengambil air wudhu. ku laksanakan sholat Ashar di kamar dengan lebih khusu dari biasanya, setelah selesai sholat ku baca zikir petang, ku baca surah Ya-sin dan ku lanjutkan dengan membaca Quran.

Kutiba alaikum-qitalu wa huwa kur-hul lakum, wa asa ana takarahu syai’aw wa huwa khairul lakum, wa asa an tuhibbu syai aw wa huwa syarrul lakum, wallahu ya’lamu wa antum la ta’lamun

(Diwajibkan atas kamu berperang, padalah berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.) (Surah Al-Baqarah ayat 216)

Aku mengucap istigfar berulang kali. Bagaimana mungkin aku telah berburuk sangka kepada Allah, sedangkan Allah lebih mengetahui yang terbaik untuk hambanya. Dan belum tentu baik menurutku juga baik menurut Allah. “Maafkan hamba mu ini Ya Allah, bagaimana mungkin Hamba berani berburuk sangka kepada Mu, sungguh Engkau lebih mengetahui apapun. Maafkan Hamba, Ampunilah segala kesalahan Hamba”. Setelah selesai berdoa barulah hati ini merasa lebih tenang. Aku bersyukur dengan cepat Allah segera menyadarkan ku. Dan ini semua memang salah ku, aku yang salah dalam mengambil niat untuk berhijrah. Bagaimana bisa aku melakukan hijrah hanya untuk mahkluk nya yang begitu lemah, harusnya aku berhijrah demi untuk mendapatkan Ridha-Nya.

Aku mulai kembali meluruskan niat ku yang selama ini tidak benar, tujuan ku memperbaiki diri sebagian besar hanya karena ingin mendapatkan jodoh yang serupa, jodoh yang lebih paham agama, jodoh yang dapat membimbingku, jodoh yang sempurna dan bisa dibilang aku menginginkan Harun. Tetapi takdir berkata lain, dengan adanya kejadian ini aku lebih sadar dan meluruskan niat ku untuk memperbaiki diri karena perintah Nya.

“Mah, seminggu lagi aku akan pergi ke Jakarta”

“semuanya sudah siap? Memangnya kenapa sih kamu mau melanjutkan S2 di Mesir ? di Indonesia juga banyak Universitas yang bagus. Lagian di Mesir itu musim panas nya luar biasa, kamu yang kena panas di Indonesia aja sudah belang, apalagi di Mesir.”

Benar saja kata ibu, aku sangat tidak tahan dengan udara panas, pernah ada satu kejadian waktu aku naik motor dan lupa memakai sarung tangan. Ketika itu tangan ku berubah menjadi kemerahan, terasa perih dan akhirnya mengelupas. Dan itu tidak kembali pulih selama 2 minggu. Mengingat cuaca di Mesir sangat panas, wajar saja ibu sangat mengkwahatirkanku.

“Ma aku melanjutkan kuliah ke Mesir bukan hanya karena Universitas nya yang bagus tetapi aku ingin mencoba tinggal di Bumi Para Nabi.”

“Baiklah semoga ini pilihan yang terbaik.”

Setelah satu minggu akhirnya waktu itu tiba, ini pertama kali nya aku pergi ke Jakarta sendirian. Berusaha sendiri dan memulai petualangan yang aku inginkan sejak dulu.

***

Semanjak perubahan ku tahun lalu banyak kejadian yang menarik yang aku alami, dari di tinggalkan kan teman-teman, menjadi bahan pembicaraan di kampus, menerima komentar negative dan bahkan semua itu tak hanya aku yang mengalaminya. Orang tua ku menjadi bahan pembicaraan juga di masyarakat. Mereka mengatakan bahwa anak nya telah menganut ajaran yang sesat.

“Lihat deh bu, anak nya bapak Burhan, sekarang menutup aurat rapat banget”

“iya bu, paling cuman sebentar. Nanti kalau datang lagi udah pamer aurat lagi”

“anak nya segitu nya, ibu nya saja masih lepas pasang kerudung”

“iya betul banget. Ibu nya aja ikut pengajian jarang kan ya, pikirannya cuman uang”

“Jangan-jangan sengaja tuh anaknya di dandanin begitu biar bisa di nikahin sama anak pak Haji”

“iya ibu benar. Semenjak Fara berpenampilan begitu Bu Haji sama ibu nya Fara makin dekat.”

“dasar munafik mereka itu”

Ayah dan ibu sebenarnya mengetahui apa yang dibicarakan orang lain di belakang mereka, hanya saja ibu jarang sekali tertarik untuk membalas komentar mereka. Satu hal yang selalu ibu bilang “tidak apa-apa mereka membicarakan kita, sebagian dari mereka juga punya anak perempuan. Suatu saat mereka juga akan merasakan hal yang sama.” Sedangkan ayah sama sekali tak ingin berkomentar. Semenjak aku mulai memperbaiki penampilan benar saja keluarga Pak Haji Mansyur semakin dekat dengan kami, yang dulunya hanya sekedar menyapa secara basa-basi sekarang tak jarang Pak Haji Mansyur berkunjung kerumah hanya sekedar membawakan oleh-oleh atau meminta kami untuk makan bersama di rumah beliau.

Pak Haji Mansyur juga memang mempunyai seorang anak laki-laki 3 tahun lebih tua dari ku, dia lulusan S1 dan S2 Bisnis, dan sekarang dia sedang melanjutkan usaha Travel Umroh milik ayahnya dan membuka Toko Emas. Ku akui dia cukup tampan dan berpendidikan, hanya saja kelakuannya yang lumayan genit dengan perempuan membuat aku merasa jijik dengannya. Sewaktu kuliah tak jarang aku bertemu dengannya di Mall dengan wanita yang berbeda-beda.

Satu minggu kemudian.

Waktu ini akhirnya tiba, hari ini aku harus berangkat ke Jakarta mengurus keperluan ku dan belajar Bahasa Arab untuk persiapan keberangkatan ku ke Mesir. Perasaan sedih dan senang bercampur aduk. Ini pertama kalinya aku akan pergi ke tempat yang lebih jauh untuk merantau dan meninggalkan ibu ayah serta adikku. Tetapi tekad ku telah bulat dan ini adalah imbian ku 1 tahun yang lalu. Aku sudah mempersiapkan semuanya, tak mungkin rasanya jika aku harus mengurungkan niat ku.

“Nak, jaga dirimu baik-baik ya” Ayah mencium kening ku.

“Kamu yakin tetap ingin berangkat? Kamu memangnya berani sendiri”. Aku sangat tahu ibu sebenarnya mempercayai ku, hanya saja ini pertama kalinya aku pergi ke tempat yang lebih jauh dan mungkin hanya akan pulang 1 tahun sekali. Aku paham betul bagaimana perasaan ibu ku.

“Iya ma, ini cita-cita Fara sejak dulu. Sejak SMP Fara sudah terbiasa hidup mandiri, sekarang Fara bukan anak kecil lagi, Fara sudah berusia 21 Tahun sekarang. Dan Fara tidak sendirian, Fara bersama Allah” aku memeluk ibu ku, ku rasakan air matanya jatuh membasahi pundakku.

“Kami hanya bisa mengantar sampai bandara ya Nak”

“Iya yah.” Aku melepaskan pelukan ibu, ku usap air mata nya, dan kucium dia berulang kali. Setelah itu aku menghampiri adik ku. ku genggam tangannya.

“Kamu itu cowok, kamu harus bisa menjaga ibu dan ayah sebelum kelak kamu akan menjaga istri dan anak-anak mu, jangan terlalu sering main game. Gitar yang kaka punya silahkan kamu ambil. Nanti setelah kakak pulang kakak janji akan membelikan gitar yang bagus.”

“iya”

Aku berjalan meninggalkan kedua orang tua ku, semakin jauh kaki melangkah semakin ingin keluar air mata ini. “Kamu kuat Fara. Silahkan menangis kalau sudah dalam pesawat.” Aku menarik napas panjang beulang kali. Aku naik pesawat sekitar kurang lebih 1 jam 40 menit aku akhirnya menepakkan kaki di Ibukota. Gedung-gedung yang menjulang tinggi, jalan-jalan yang macet karena terlalu banyak yang melintas kehulu hilir, udara yang cukup panas, dan bahkan polusi udara yang luar biasa, sepertinya aku tak akan menyukai Kota ini.

6 bulan berlalu, yang aku bayangkan memang tak semudah kenyataannya, minggu pertama memang tampak asik, menyenangkan dan menghibur. Satu bulan berlalu, dua bulan berlalu, sisanya hanya air mata setiap malam yang bisa mengekspresikan keadaan ku saat ini. Aku merindukan orangtua ku, aku merindukan adikku, aku merindukan kamar ku, merindukan aktivitas ku, seperti kata orang Jakarta memang keras. Berkali-kali aku mencoba mencari pekerjaan sambilan untuk membantu ku bertahan hidup. Bukan karena uang yang diberikan oleh orangtua ku tak cukup, hanya saja biaya hidup yang lumayan mahal dan biaya belajar Bahasa Arab serta banyaknya dokumen yang harus aku urus membuat sedikit lebih banyak pengeluaran, dan aku tahu betul bahagimana ekonomi keluarga ku sekarang.

6 bulan ini aku berjuang mati-matian, menghemat uang sebisa mungkin, waktu tidur yang ku gunakan dalam satu hari hanya 4-5 jam, dan makan makanan apapun asal bisa mengisi perut serta halal. Setelah perjuangan yang luar biasa akhirnya hari ini tibalah pengumuman apakah aku bisa melanjutkan Kuliah d Mesir. Sejak tadi pagi aku memandangi laptop menunggu email masuk, tak henti-hentinya aku bersholawat dan berdoa semoga aku diterima dan dapat melanjutkan studi ke Mesir. Sekitar pukul 11 siang akhirnya email masuk. Setelah membaca email tersebut aku bersujud syukur tanda rasa terimakasih kepada Allah karena aku telah diterima. Dan bulan depan akan berangkat ke Mesir.

“Hallo ma, Assalamualaikum. Aku di terima ma, dan bulan depan aku akan berangkat ke Mesir.”

“Alhamdullilah ya Allah” terdengar ayah dan ibu berulang kali mengucapkan syukur.

“Malam ini kami akan mengadakan syukuran”

“iya ma”

“Terimakasih Ya Allah, semoga ini jalan terbaik” aku bersyukur tak henti-hentinya. Aku mnghayalkan bagaimana aku d Mesir kelak, dan bisa jadi aku bertemu jodoh ku kelak di sana, aku senyum-senyum membayangkan indahnya Kota Mesir. Aku membagikan kehagianku dengan menguplod foto Kota Alexandria, Mesir dengan caption “Sampai berjumpa bulan depan.” Aku benar-benar bahagia.

Malam ini Kota Jakarta tanpak sedih, sejak sore tadi hanya awan gelap yang menyelimuti, matahari hanya bisa bersembunyi, dan angin tak henti-hentinya menari dengan liar. Sesekali kilat menyambar menampakkan cahaya putihnya yang seperti ingin menerkam seseorang.  Jakarta memang tak bersahabat dengan ku, katika hati ku seperti musim semi maka Jakarta seperti musim dingin. Rintik-rintik hujan mulai membasahi Kota Jakarta, segera aku menggadahkan tangan sembali mengucapkan doa

Allahumma haawalaina wa laa’alaina. Allahumma’alal aakami wal jibaali, wazh zhirooti, wa buthunil awdityi, wa manaabitisy syajari

Aku sangat menyukai hujan, ketika hujan tersa lebih tenang, terasa lebih damai, dan hujan adalah salah satu waktu mustajab untuk berdoa. Malam ini sepertinya aku akan di temani hujan. Ku ambil air wudhu, ku ucapkan kalimat zikir sebelum tidur, ku tutupi tubuh ku dengan selimut tebal dan  ku pejamkan mata ini untuk tidur.

Ditempat lain.

“Api Api Api”

“Kebakaran Kebakaran Kebakaran”

Warga berteriak. Pak Burhan terbangun dari tidurnya. “sayang sayang, bangun. Ada kebakaran.” Sang istri segera bangun dari tidurnya. Ketika keluar kamar asap mulai memenuhi rumahnya. “sayang cepat kamu keluar rumah, aku akan membangunkan Fahri.” Istri Pak Burhan segera keluar rumah, jantungnya berdegup kencang, pikirannya tak karuan. Sedangkan pak Burhan berlari menuju kamar anaknya. ”Fahri Fahri bangun” anaknya tak menjawab, beberapa kali Pak Burhan mengguncang tubuh anaknya tetapi tak juga bangun. Pak Burhan mengangkat sang anak keluar rumah. Bagian dapur rumah pak Burhan telah lenyap di makan api. Seperti seseorang yang kelaparan api dengan cepat menghabiskan rumah Pak Burhan, tanpa sempat menyelamatkan hartanya Pak Burhan mencari pertolongan untuk anaknya. Fahri menderita asma sejak kecil, sedikit saja terkena paparan asap maka asma nya akan kambuh.

Orang berbondong-bondong memadamkan api, tidak lama kemudia Pemadam kebakaran dan Ambulans datang, seperti superhero yang datang tidak tepat waktu begitulah ungkapan yang bisa menggambarkan kejadian saat ini. Rumah Pak Burhan telah menjadi abu. Pak Burhan dan istrinya hanya keluar dengan pakai yang mereka kenakan, dan hanya itulah yang mampu mereka selamatkan. Fahri dapat terselamatkan, tetapi harus di rawat beberapa hari di Rumah Sakit.

Pukul 4 pagi aku terbangun dari tidurku, aku mendengar suara Handphone yang sedari tadi berdering. Aku mengambil handphone tersebut ku lihat 5 kali panggilan dari nomer tak di kenal. Aku sangat tak suka jika tiba-tiba ada nomer yang tak di kenal menelponku, biasanya langsung aku blokir. Tapi kali ini menelpon sebanyak 5 kali mungkin saja hal yang penting. Ketika handphone kembali berdering aku menangkatnya. Dibalik telpon terdengar suara seseorang yang sangat aku kenali, suara laki-laki yang tegas. Ini adalah suara Ayah.

“Hallo Fara, kamu bisa tidak besok hari ini pulang?”

“Ayah, memangnya ada apa yah.”

“rumah kita kebakaran, ayah ibu baik-baik saja. Tetapi Fahri sedang berada di rumah sakit”

“Astagfirullah. Baik yah, Fara akan pulang secepatnya”

“iya Fara, kamu tidak usah khawatir ya”

Kejutan apa lagi yang ingin Allah berikan kepada ku?

Bersambung…

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BAGAIMANA SEHARUSNYA MENCINTAI SESEORANG ?

Part 1 “Bagaimana seharusnya mencintai seseorang ?” Jawaban dari pertanyaan tersebut pasti berbeda dari setiap orang. Ada yang mengatakan kita harus berkorban untuk seseorang yang kita cintai, kita harus membuatnya bahagia, kita harus menjadi diri sendiri, kita boleh menjadi orang lain, kita juga harus mementingkan diri kita, kita boleh tersakiti, tidak apa-apa jika kita yang terluka, mencintai seseorang juga harus rela jika suatu saat dia dengan orang lain.  Dari sekian banyak jawaban dari semua orang lantas bagaimana seharusnya mencintai seseorang menurut saya ? Aku sudah banyak menerima pengalaman mencintai bahkan dicintai selama ini. Rasanya menjawab pertanyaan tersebut hanya dengan 1 pandangan dan 1 pengalam mencintai saja tidak akan cukup, jawaban pertanyaan ini sangat beragam bukan? Bahkan saya juga bingung apa jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan tersebut. Tapi jika saya tetap harus menjawab maka bagaimana seharusnya mencintai seseorang dari saya...

REZEKI SETIAP MANUSIA

Aku sangat ingat hari itu, terbangun di pagi hari dan tiba-tiba terlintas dipikiran “di rumah setiap hari, pengeluaran terus berjalan. Tetapi pemasukan sama sekali tidak ada”. Pada pagi itu juga aku memutuskan untuk berjualan, jualan naget-naget yang digoreng dan pop ice di depan rumah. Pagi itu aku sangat bersemangat. Bangun, mandi dan bersiap-siap membeli bahan-bahan untuk berjualan. Hari pertama, kedua dan ketiga Alhamdulillah berjalan dengan lancer dan cukup rami. Pada hari keempat tetangga aku juga jualan yang sama, awalnya aku biasa aja. Tapi secara sadar atau tidak sadar ini adalah keadaan dimana aku “terancam” kenapa demikian ? bukankah dia adalah saingan ? ketika A adalah sesuatu yang di butuhkan oleh 20 orang dan hanya bisa di dapatkan di aku maka 20 orang tersebut sudah pasti akan datang ke aku, iya kan ? tapi ketika A bisa di dapatkan selain di tempat ku maka 20orang tersebut belum pasti akan ke aku semuakan ? “Apasih gtu aja lebay banget, kan rezeki setiap orang beda...

RAMADHAN YANG BERBEDA

Seperti yang semua orang ketahui ramadhan kali ini akan jauh berbeda dengan yang sebelumnya. Dari sekian banyak keluhan yang orang lain rasakan aku hanya ingin membahas tentang betapa bersyukurnya aku tahun ini. Setelah beberapa tahun aku tidak bisa menghabiskan waktu ramadhan bersama keluarga, akhirnya tahun ini satu bulan penuh aku akan menghabiskannya dengan keluarga ku. Mungkin ini juga pembelajarn yang dapat kita ambil bahwa kita harus bisa lebih bersyukur dan lebih memberikan waktu berkumpul dengan keluarga tidak hanya mementingkan pekerjaan masing-masing. Jika biasanya aku sahur di kost kostan kadang sendiri atau dengan teman akhirnya tahun ini aku bisa sahur dan berbuka bersama keluarga ku. sholat berjamaah juga salah satu hal yang sangat amat aku rindukan.  Berbicara dengan mereka, bercanda dengan mereka, bahkan memberitahu kesedihan masing-masing adaalah hal yang paling aku sukai. Bisa bersama dengan keluarga akan membuat kita lebih bersyukur dan sadar. ...