#Coreaan
“Iya kenal yah. Tapi Fara tidak
bisa datang karena bulan depan akan sangat sibuk harus ke Jakarta untuk
mengurus semua keperluan ke Mesir, dan Fara juga perlu mempelajari Bahasa
Arab”. Benar saja dari satu bulan kedepan hingga 6 bulan selanjutnya aku akan
sangat sibuk mengurus S2 ku di Mesir dan sebenarnya ini juga salah satu
alasanku untuk menghindari pernikahan tersebut. Tak sanggup rasanya jika aku
hanya datang menjadi tamu undangan.
“Nanti akan ayah kirimkan foto-foto
nya ya.”
“tidak perlu yah.”
Untuk melihat foto mereka
bersanding berdua pun rasanya aku tak akan sanggup, lebih baik aku melupakannya
dan tahu menahu dari pada aku harus tersakiti nantinya. Aku masuk kekamar, air
mata mulai membasahi pipi ku. “Tuhan, selama ini aku selalu berbuat baik, aku
ikhlas dengan apa yang telah engkau takdirkan untukku, selama ini juga aku
menggagumi seorang laki-laki yang sudah jelas aku tahu bahwa dia sangat cocok
untuk menjadi pendampingku, bahwa dia yang aku yakini pasti akan mampu
membahagiakan ku,tapi mengapa, mengapa hari ini kamu memutuskan dia untuk
berjodoh dengan orang lain? Apakah selama ini yang aku lakukan hanya sia-sia?”
aku mengeluh kepada Tuhan, aku merasa di kecewakan. Aku menangis sejadinya.
Jika semala ini cobaan yang aku terima aku masih sanggup menerimannya. Tetapi
jika perkara rasa cinta ini terlalu berat aku terima. Aku mengambil handphone
menghapus semua foto Harun dan keluarganya, aku menghapus nomer telpon Harun
dan keluarganya bahkan nomer kakek dan aku mengunfollow instagram adik Harun,
hanya dengan cara ini aku dapat melupakannya.
Allahu
akbar
Allahu
akbar
Terdengar suara azan dari masjid,
pertanda waktunya melaksanakan sholat Ashar telah tiba, dengan mata sembab dan
masih sedikit mengeluarkan air mata aku mengambil air wudhu. ku laksanakan
sholat Ashar di kamar dengan lebih khusu dari biasanya, setelah selesai sholat
ku baca zikir petang, ku baca surah Ya-sin dan ku lanjutkan dengan membaca
Quran.
Kutiba
alaikum-qitalu wa huwa kur-hul lakum, wa asa ana takarahu syai’aw wa huwa
khairul lakum, wa asa an tuhibbu syai aw wa huwa syarrul lakum, wallahu ya’lamu
wa antum la ta’lamun
(Diwajibkan atas kamu berperang,
padalah berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci
sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai
sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak
mengetahui.) (Surah Al-Baqarah ayat 216)
Aku mengucap istigfar berulang
kali. Bagaimana mungkin aku telah berburuk sangka kepada Allah, sedangkan Allah
lebih mengetahui yang terbaik untuk hambanya. Dan belum tentu baik menurutku
juga baik menurut Allah. “Maafkan hamba mu ini Ya Allah, bagaimana mungkin
Hamba berani berburuk sangka kepada Mu, sungguh Engkau lebih mengetahui apapun.
Maafkan Hamba, Ampunilah segala kesalahan Hamba”. Setelah selesai berdoa
barulah hati ini merasa lebih tenang. Aku bersyukur dengan cepat Allah segera
menyadarkan ku. Dan ini semua memang salah ku, aku yang salah dalam mengambil
niat untuk berhijrah. Bagaimana bisa aku melakukan hijrah hanya untuk mahkluk
nya yang begitu lemah, harusnya aku berhijrah demi untuk mendapatkan Ridha-Nya.
Aku mulai kembali meluruskan niat
ku yang selama ini tidak benar, tujuan ku memperbaiki diri sebagian besar hanya
karena ingin mendapatkan jodoh yang serupa, jodoh yang lebih paham agama, jodoh
yang dapat membimbingku, jodoh yang sempurna dan bisa dibilang aku menginginkan
Harun. Tetapi takdir berkata lain, dengan adanya kejadian ini aku lebih sadar
dan meluruskan niat ku untuk memperbaiki diri karena perintah Nya.
“Mah, seminggu lagi aku akan pergi
ke Jakarta”
“semuanya sudah siap? Memangnya
kenapa sih kamu mau melanjutkan S2 di Mesir ? di Indonesia juga banyak
Universitas yang bagus. Lagian di Mesir itu musim panas nya luar biasa, kamu yang
kena panas di Indonesia aja sudah belang, apalagi di Mesir.”
Benar saja kata ibu, aku sangat
tidak tahan dengan udara panas, pernah ada satu kejadian waktu aku naik motor
dan lupa memakai sarung tangan. Ketika itu tangan ku berubah menjadi kemerahan,
terasa perih dan akhirnya mengelupas. Dan itu tidak kembali pulih selama 2
minggu. Mengingat cuaca di Mesir sangat panas, wajar saja ibu sangat
mengkwahatirkanku.
“Ma aku melanjutkan kuliah ke Mesir
bukan hanya karena Universitas nya yang bagus tetapi aku ingin mencoba tinggal
di Bumi Para Nabi.”
“Baiklah semoga ini pilihan yang
terbaik.”
Setelah satu minggu akhirnya waktu
itu tiba, ini pertama kali nya aku pergi ke Jakarta sendirian. Berusaha sendiri
dan memulai petualangan yang aku inginkan sejak dulu.
***
Semanjak perubahan ku tahun lalu
banyak kejadian yang menarik yang aku alami, dari di tinggalkan kan
teman-teman, menjadi bahan pembicaraan di kampus, menerima komentar negative
dan bahkan semua itu tak hanya aku yang mengalaminya. Orang tua ku menjadi bahan
pembicaraan juga di masyarakat. Mereka mengatakan bahwa anak nya telah menganut
ajaran yang sesat.
“Lihat
deh bu, anak nya bapak Burhan, sekarang menutup aurat rapat banget”
“iya
bu, paling cuman sebentar. Nanti kalau datang lagi udah pamer aurat lagi”
“anak
nya segitu nya, ibu nya saja masih lepas pasang kerudung”
“iya
betul banget. Ibu nya aja ikut pengajian jarang kan ya, pikirannya cuman uang”
“Jangan-jangan
sengaja tuh anaknya di dandanin begitu biar bisa di nikahin sama anak pak Haji”
“iya
ibu benar. Semenjak Fara berpenampilan begitu Bu Haji sama ibu nya Fara makin
dekat.”
“dasar
munafik mereka itu”
Ayah dan ibu sebenarnya mengetahui
apa yang dibicarakan orang lain di belakang mereka, hanya saja ibu jarang
sekali tertarik untuk membalas komentar mereka. Satu hal yang selalu ibu bilang
“tidak apa-apa mereka membicarakan kita, sebagian dari mereka juga punya anak
perempuan. Suatu saat mereka juga akan merasakan hal yang sama.” Sedangkan ayah
sama sekali tak ingin berkomentar. Semenjak aku mulai memperbaiki penampilan
benar saja keluarga Pak Haji Mansyur semakin dekat dengan kami, yang dulunya
hanya sekedar menyapa secara basa-basi sekarang tak jarang Pak Haji Mansyur
berkunjung kerumah hanya sekedar membawakan oleh-oleh atau meminta kami untuk
makan bersama di rumah beliau.
Pak Haji Mansyur juga memang
mempunyai seorang anak laki-laki 3 tahun lebih tua dari ku, dia lulusan S1 dan
S2 Bisnis, dan sekarang dia sedang melanjutkan usaha Travel Umroh milik ayahnya
dan membuka Toko Emas. Ku akui dia cukup tampan dan berpendidikan, hanya saja
kelakuannya yang lumayan genit dengan perempuan membuat aku merasa jijik
dengannya. Sewaktu kuliah tak jarang aku bertemu dengannya di Mall dengan
wanita yang berbeda-beda.
Satu minggu kemudian.
Waktu ini akhirnya tiba, hari ini
aku harus berangkat ke Jakarta mengurus keperluan ku dan belajar Bahasa Arab
untuk persiapan keberangkatan ku ke Mesir. Perasaan sedih dan senang bercampur
aduk. Ini pertama kalinya aku akan pergi ke tempat yang lebih jauh untuk
merantau dan meninggalkan ibu ayah serta adikku. Tetapi tekad ku telah bulat
dan ini adalah imbian ku 1 tahun yang lalu. Aku sudah mempersiapkan semuanya,
tak mungkin rasanya jika aku harus mengurungkan niat ku.
“Nak, jaga dirimu baik-baik ya”
Ayah mencium kening ku.
“Kamu yakin tetap ingin berangkat?
Kamu memangnya berani sendiri”. Aku sangat tahu ibu sebenarnya mempercayai ku,
hanya saja ini pertama kalinya aku pergi ke tempat yang lebih jauh dan mungkin
hanya akan pulang 1 tahun sekali. Aku paham betul bagaimana perasaan ibu ku.
“Iya ma, ini cita-cita Fara sejak
dulu. Sejak SMP Fara sudah terbiasa hidup mandiri, sekarang Fara bukan anak
kecil lagi, Fara sudah berusia 21 Tahun sekarang. Dan Fara tidak sendirian,
Fara bersama Allah” aku memeluk ibu ku, ku rasakan air matanya jatuh membasahi
pundakku.
“Kami hanya bisa mengantar sampai
bandara ya Nak”
“Iya yah.” Aku melepaskan pelukan
ibu, ku usap air mata nya, dan kucium dia berulang kali. Setelah itu aku
menghampiri adik ku. ku genggam tangannya.
“Kamu itu cowok, kamu harus bisa
menjaga ibu dan ayah sebelum kelak kamu akan menjaga istri dan anak-anak mu,
jangan terlalu sering main game. Gitar yang kaka punya silahkan kamu ambil.
Nanti setelah kakak pulang kakak janji akan membelikan gitar yang bagus.”
“iya”
Aku berjalan meninggalkan kedua
orang tua ku, semakin jauh kaki melangkah semakin ingin keluar air mata ini.
“Kamu kuat Fara. Silahkan menangis kalau sudah dalam pesawat.” Aku menarik
napas panjang beulang kali. Aku naik pesawat sekitar kurang lebih 1 jam 40
menit aku akhirnya menepakkan kaki di Ibukota. Gedung-gedung yang menjulang
tinggi, jalan-jalan yang macet karena terlalu banyak yang melintas kehulu
hilir, udara yang cukup panas, dan bahkan polusi udara yang luar biasa,
sepertinya aku tak akan menyukai Kota ini.
6 bulan berlalu, yang aku bayangkan
memang tak semudah kenyataannya, minggu pertama memang tampak asik,
menyenangkan dan menghibur. Satu bulan berlalu, dua bulan berlalu, sisanya
hanya air mata setiap malam yang bisa mengekspresikan keadaan ku saat ini. Aku
merindukan orangtua ku, aku merindukan adikku, aku merindukan kamar ku,
merindukan aktivitas ku, seperti kata orang Jakarta memang keras. Berkali-kali
aku mencoba mencari pekerjaan sambilan untuk membantu ku bertahan hidup. Bukan
karena uang yang diberikan oleh orangtua ku tak cukup, hanya saja biaya hidup
yang lumayan mahal dan biaya belajar Bahasa Arab serta banyaknya dokumen yang
harus aku urus membuat sedikit lebih banyak pengeluaran, dan aku tahu betul
bahagimana ekonomi keluarga ku sekarang.
6 bulan ini aku berjuang
mati-matian, menghemat uang sebisa mungkin, waktu tidur yang ku gunakan dalam
satu hari hanya 4-5 jam, dan makan makanan apapun asal bisa mengisi perut serta
halal. Setelah perjuangan yang luar biasa akhirnya hari ini tibalah pengumuman
apakah aku bisa melanjutkan Kuliah d Mesir. Sejak tadi pagi aku memandangi
laptop menunggu email masuk, tak henti-hentinya aku bersholawat dan berdoa
semoga aku diterima dan dapat melanjutkan studi ke Mesir. Sekitar pukul 11
siang akhirnya email masuk. Setelah membaca email tersebut aku bersujud syukur
tanda rasa terimakasih kepada Allah karena aku telah diterima. Dan bulan depan
akan berangkat ke Mesir.
“Hallo
ma, Assalamualaikum. Aku di terima ma, dan bulan depan aku akan berangkat ke
Mesir.”
“Alhamdullilah
ya Allah” terdengar ayah dan ibu berulang kali mengucapkan syukur.
“Malam
ini kami akan mengadakan syukuran”
“iya
ma”
“Terimakasih Ya Allah, semoga ini
jalan terbaik” aku bersyukur tak henti-hentinya. Aku mnghayalkan bagaimana aku
d Mesir kelak, dan bisa jadi aku bertemu jodoh ku kelak di sana, aku senyum-senyum
membayangkan indahnya Kota Mesir. Aku membagikan kehagianku dengan menguplod
foto Kota Alexandria, Mesir dengan caption “Sampai berjumpa bulan depan.” Aku
benar-benar bahagia.
Malam ini Kota Jakarta tanpak
sedih, sejak sore tadi hanya awan gelap yang menyelimuti, matahari hanya bisa
bersembunyi, dan angin tak henti-hentinya menari dengan liar. Sesekali kilat
menyambar menampakkan cahaya putihnya yang seperti ingin menerkam seseorang. Jakarta memang tak bersahabat dengan ku,
katika hati ku seperti musim semi maka Jakarta seperti musim dingin. Rintik-rintik
hujan mulai membasahi Kota Jakarta, segera aku menggadahkan tangan sembali
mengucapkan doa
Allahumma
haawalaina wa laa’alaina. Allahumma’alal aakami wal jibaali, wazh zhirooti, wa
buthunil awdityi, wa manaabitisy syajari
Aku sangat menyukai hujan, ketika
hujan tersa lebih tenang, terasa lebih damai, dan hujan adalah salah satu waktu
mustajab untuk berdoa. Malam ini
sepertinya aku akan di temani hujan. Ku ambil air wudhu, ku ucapkan kalimat
zikir sebelum tidur, ku tutupi tubuh ku dengan selimut tebal dan ku pejamkan mata ini untuk tidur.
Ditempat lain.
“Api Api Api”
“Kebakaran Kebakaran Kebakaran”
Warga berteriak. Pak Burhan
terbangun dari tidurnya. “sayang sayang, bangun. Ada kebakaran.” Sang istri
segera bangun dari tidurnya. Ketika keluar kamar asap mulai memenuhi rumahnya.
“sayang cepat kamu keluar rumah, aku akan membangunkan Fahri.” Istri Pak Burhan
segera keluar rumah, jantungnya berdegup kencang, pikirannya tak karuan.
Sedangkan pak Burhan berlari menuju kamar anaknya. ”Fahri Fahri bangun” anaknya
tak menjawab, beberapa kali Pak Burhan mengguncang tubuh anaknya tetapi tak
juga bangun. Pak Burhan mengangkat sang anak keluar rumah. Bagian dapur rumah
pak Burhan telah lenyap di makan api. Seperti seseorang yang kelaparan api
dengan cepat menghabiskan rumah Pak Burhan, tanpa sempat menyelamatkan hartanya
Pak Burhan mencari pertolongan untuk anaknya. Fahri menderita asma sejak kecil,
sedikit saja terkena paparan asap maka asma nya akan kambuh.
Orang berbondong-bondong memadamkan
api, tidak lama kemudia Pemadam kebakaran dan Ambulans datang, seperti
superhero yang datang tidak tepat waktu begitulah ungkapan yang bisa
menggambarkan kejadian saat ini. Rumah Pak Burhan telah menjadi abu. Pak Burhan
dan istrinya hanya keluar dengan pakai yang mereka kenakan, dan hanya itulah
yang mampu mereka selamatkan. Fahri dapat terselamatkan, tetapi harus di rawat
beberapa hari di Rumah Sakit.
Pukul 4 pagi aku terbangun dari
tidurku, aku mendengar suara Handphone yang sedari tadi berdering. Aku
mengambil handphone tersebut ku lihat 5 kali panggilan dari nomer tak di kenal.
Aku sangat tak suka jika tiba-tiba ada nomer yang tak di kenal menelponku,
biasanya langsung aku blokir. Tapi kali ini menelpon sebanyak 5 kali mungkin
saja hal yang penting. Ketika handphone kembali berdering aku menangkatnya.
Dibalik telpon terdengar suara seseorang yang sangat aku kenali, suara
laki-laki yang tegas. Ini adalah suara Ayah.
“Hallo Fara, kamu bisa tidak besok
hari ini pulang?”
“Ayah, memangnya ada apa yah.”
“rumah kita kebakaran, ayah ibu
baik-baik saja. Tetapi Fahri sedang berada di rumah sakit”
“Astagfirullah. Baik yah, Fara akan
pulang secepatnya”
“iya Fara, kamu tidak usah khawatir
ya”
Kejutan apa lagi yang ingin Allah
berikan kepada ku?
Bersambung…
Komentar
Posting Komentar