Langsung ke konten utama

3. PAMIT


#coretan

Dia adalah laki-laki yang 7 tahun lalu rela nyebur ke tambak ikan untuk mengambilkan handphone aku, dia adalah laki-laki yang rela naik pohon jeruk walaupun di siang bolong untuk memenuhi permintaan ku, dia laki-laki yang rela turun-naik rumah pohon untuk sekedar menyenangkan ku dan dia adalah laki-laki pertama yang membuat aku menjadi diriku sendiri di depannya. Sekarang dia menjadi laki-laki yang jauh berbeda, jika dulu dia sangat cerewet sekarang dia banyak diam. Jika dulu dia selalu menempel dengan ku sekarang dia bahkan tak berani menatapku. Jika dulu dia selalu mencariku sekarang dia bahkan menghindari ku.

Ternyata semua orang memang akan berubah dan selalu berubah. Entah menjadi orang yang menyenangkan ataupun menyebalkan. Aku benar-benar kaget dengan perubahan pada dirinya yang sekarang tidak hanya dari penampilannya yang berubah tetapi caranya berinteraksi dengan orang lain pun berubah.

“Kamu Harun kan?”

“iya, aku duluan ya. Assalamualaikum” dia beranjak pergi meninggalkan ku dalam kebingungan dan beribu pertanyaan. Dia memang Harun anak dari Ustadz Abdurrahman. Harusnya aku tak kaget dengan perubahannya sekarang, wajar saja anak ustadz ketika beranjak dewasa akan berpenampilan seperti itu. Apalagi dia sekarang santri di salah satu Pesantren ternama di Kalimantan. Jika dia berubah sebanyak itu maka aku juga sebaliknya. Dulu hanya perempuan desa yang tak tahu menahu tentang fashion, skincare dan oppa oppa Korea. Sekarang menjadi perempuan yang selalu mementingkan 3 hal tersebut, bahkan rasanya hidup ini akan kurang jika 3 hal tersebut aku tinggalkan.

Setelah acara di rumah kakek selesai kami sekeluarga memutuskan untuk kembali kerumah, karena ayah punya pekerjaan dan ibu harus menyelesaikan pesanan kue pelanggan. Kami berpamitan dengan keluarga kakek, karena aku dan ibu ku selalu update di sosial media akhirnya kami meminta untuk foto bersama. Aku, adikku, ibu, ayah, kakek, nenek, Harun, Rahman, dan Abdul berfoto bersama. Setelah itu kami bersalaman dan pulang. Sedih rasanya harus meninggalkan tempat kakek, suasana nya sangat tenang belum lagi setiap waktu selalu rutin mendengarkan Harun membaca Ayat Suci Quran. Walaupun kami tak banyak berbicara dengan melihatnya saja aku sudah sangat senang.

Diperjalanan pulang, ku buka jendela mobil. Kurasakan udara yang begitu segar walaupun ada sedikit debu yang menyentuh pipi ku. ku lihat sekeliling pepohonan yang hijau dan menari-nari. Sungguh damai rasanya. Aku mengambil handphone untuk mengabadikan momen ini dan aku bagikan ke sosial media. Ketika itu aku juga melihat kembali foto-foto yang di ambil ketika berpamitan dengan kakek dan keluarganya. Ku lihat satu persatu wajah di foto tersebut, dan aku tersenyum ketika melihat wajah Harun, sungguh wajah yang meneduhkan. Ku perbesar pada wajah Harun ku lihat berulang kali dan aku putuskan untuk memposting foto tersebut.

Sampai bertemu lagi

Tulisku pada caption Instagram. Memang itulah yang aku inginkan, bertemu kembali. Bahkan kalau bisa secepatnya. Baru saja berpisah rasanya aku sudah merindukannya, aku tak tahan dengan perasaan ini, aku juga lupa meminta Nomer Telpon Harun. “cari di instagram aja” pikir ku dalam hati. Aku mengetikkan nama Abdurrahman Harun, Abdurrahman Harun Al-Amin, Harun Al-Amin. Tetapi tak kunjung aku temukan. Akhirnya aku mencoba untuk mengetik nama adiknya Abdurrahman Abdul Al-Hanafi dan ketemu. Aku meminta pertemanan instagram pada adiknya, tidak lama kemudian adiknya menerima pertemanan ku. aku mencoba mencari di Followers, Following dan tag an pun aku tak menemukan instagram Harun. Karena rasa penasaran yang sangat memuncak aku memberanikan diri untuk mengirim pesan kepada adiknya dan kebetulan aku memang lebih akrab dengannya.

“assalamualaikum, Instagram kak Harun namanya apa ya?”

“waalaikumsalam, Kak Harun tidak mengunakan instagram. Ini nomer telponnya 08xx xxxx xxx”

“oke thanks”

Emang beda ini orang, ngak punya instagram. Ngak salah apa?, tapi ngak papa lah nomer telpon lebih baik. Aku segera menyimpan nomer telpon Harun dan mengirimkan pesan kepadanya.

“Assalamualaikum, save ya. Ini Fara.”

Tanda cektang dua berwarna abu-abu menandakan pesan tersebut telah terkirim. Aku menunggu balasan tapi tak kunjung ku dapatkan, jangankan di balas tanda centang abu-abu itu tak kunjung berubah warna menjadi biru. Mungkin dia sibuk, atau lagi ngak main handphone. Aku menyimpan handphone dan mengambil buku novel yang tak sembat selesai kubaca. Satu halaman membaca aku mengecek handphone masih berwarna coklat. Aku kembali membaca, satu halaman lagi aku kembali mengecek handphone kali ini juga tetap sama. Aku sama sekali tak fokus membaca novel. Aku memutuskan untuk streaming drama korea terbaru, satu jam menonton tak juga warna coklat itu berubah menjadi biru. Aku mulai kesal. Mana ada orang yang benar-benar sibuk 24 jam di dunia ini. Sesibuk apapun juga pasti mengecek handphone, atau jangan-jangan dia memang tidak mau membaca pesan dari ku. Aku mulai berpikir macam-macam. Karena tak tahan cara satu-satunya adalah tidur. Ketika mulai jengkel, sedih, marah ataupun sakit hati cara yang paling ampuh untuk menenangkan diri adalah dengan tidur. aku memejamkan mata dan perlahan-lahan hanyut dalam tidurku.

“Fara bangun, sudah sampai.” Suara ayah membangunkan ku. ternyata kami sudah sampai dirumah. Aku keluar mobil dan segera mandi, ketika selesai mandi aku bergegas menbuka handphone dengan harapan warna coklat itu berubah menjadi biru. Tetapi lagi-lagi aku di kecewakan. Warna coklat itu tetap coklat. Aku melepar handphone kekasur “Kurang ajar”. Aku benar-benar jengkel. Bagaimana bisa 4 jam pesan ku hanya di abaikan. Ku lihat kembali handphoen tersebut dan hanya ada pesan dari Sakti, karena kecewa dengan Harun aku melampiaskan perasaan itu kepada Sakti, aku menelpon nya dan kami berbicara selama 45 menit di telpon, dia bercerita panjang lebar dan sesekali memberikan gombalan yang mampu menghilangkan rasa kecewaku.

***

 

Malam hari setelah menyelesaikan sholat Isya Harun mengambil Al-Quran kecil berwarna hitam kesayangannya, dia membuka Al-Quran itu dia lembar demi lembaran di abaca dengan suara merdunya, sesekali dia meneteskan air mata karena begitu sempurna kitab yang di abaca bahkan tak dia dapati keraguan dalam kitab tersebut. Setelah selesai membaca dia memanjatkan doa kepada sang Pemilik Hati, semoga kelak dia dipertemukan dan di jodohkan dengan Perempuan yang sama cintanya dengan kitab yang dia pegang saat itu. Dia meletakkan Kitab tersebut di meja samping tempat tidurnya dan dia mengecek Handphone sebelum tidurnya.  Terdapat pesan dari nomer yang tak dikenalinya.

“Assalamualaikum, save ya. Ini Fara.”

Ternyata pesan itu dari Fara, dia menyimpan nomer Fara dengan nama Nesya Faranisa. Lalu dia membalas pesan tersebut.

“Waalaikumsalam, na’am”

Setelah mengecak handphone dan jam menunjukan pukul 10 malam Harun mematikan lampu kamarnya dan bersiap untuk tidur, dia selalu tidur cepat sehingga pagi-pagi sekali dia bisa bangun mandi dan melaksanakan sholat Tahajud yang tak pernah dia lewatkan selama berada dipesantren kecuali jika ada sesuatu hal yang membuatnya tak bisa melakukkannya.

Ditempat lain, Fara sedang asik memanjakan mata dan nafsunya dengan menonton MV kpop kesukaannya yang baru saja Comeback. Laki-laki menyanyi, menari, dan sesekali memamerkan otot perut yang sangat menggoda membuat Fara hanyut dan terbuai. Imajinasinya kemana-mana. Sesekali dia berteriak kegirangan, ikut menari-nari bahkan tertawa tak jelas. Tak ada seorangpun yang dapat merasakan apa yang ia rasakan kecuali orang-orang yang memiliki kegemaran yang sama. Setelah selesai Fara menutup laptopnya dan mengambil Handphone untuk memberitahu teman-temannya bahwa dia telah menonton MV kpop yang baru saja comeback. Tetapi niat itu ia urungkan karena dia melihat balasan pesan dari Harun, dia segera membukanya tetapi bukan kegembiraan yang ia dapatkan melaikan lagi-lagi ia dikecewakan.

“Waalaikumsalam, na’am”. Balasan macam apa ini, pesannya telah di abaikan berjam-jam dan balasan yang iya dapatkan hanya demikian. “sombong banget sih” aku sangat kesal. Karena sangat kesal akhirnya aku memberanikan diri menelpon Harun tetapi dia tidak mengangkat. 1 kali ku coba, 2 kali bahkan sampai 3 kali Harun tak mengangkat panggilan itu. “awas aja ya, dasar laki-laki sombong.” Aku akhirnya memutuskan untuk membuka Instagram karena bosan dengan kiriman orang-orang di Instagram akhrinya aku melihat ke pencarian, semua di pencarianku hanya dihiasi dengan wajah-wajah artis korea, drama korea, dan banyak hal tentang korea lainnya. Tapi ada satu postingan yang muncul dari @potongansurah yang berisikan tentang Quran Surah An-Nur Ayat 26 entah kenapa aku membuka postingan tersebut.

“Al-khabiisaatu lil-khabiisiina wal-khabiitsuuna lil-khabiisaat, wath-thaiyibaatu li-ththai-yibaati, uula ika mubarrauuna mimma yaquuluuna, lahum maghfiratun warizqun kariim”

(Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunana dan rezeki yang mulia (surga)).

Seketika membaca postingan tersebut tiba-tiba saja hatiku seperti tersentuh oleh sesuatu yang baru, pikiran ku mulai tak terarahkan, air mata mulai membasahi pipi, badan terasa gemetar dan bulu kuduk tiba-tiba berdiri. Aku baru mengetahuinya sekarang. Ketika beberapa lama aku terdiam dan menangis karena tak tahu alasan yang jelas, ku arahkan pandangan ku keatas meja belajar terlihat satu Kitab dengan sedikit debu yang tak pernah ku sentuh entah berapa lama, aku turun dari kasur ku ambil kitab tersebut dan ku cari Surah An-Nur, ku buka halaman 350 juz 18 surah ke 24. Kucari ayat 26 dan ku baca terjemahan ayat tersebut tepat di halaman 352 di sebelah kiri bawah aku temukan terjemahan ayat tersebut, berulang kali ku baca

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunana dan rezeki yang mulia (surga)”

Aku menangis, bagaimana bisa di umur yang 21 tahun ini baru pertama kali aku membaca terjemahan Kitab ini, bahkan hampir beberapa tahun aku hanya membiarkan kitab ini menjadi pajangan di kamar tidurku. Akhirnya aku membuka dari halaman pertama, ku baca terjemahan ayat tersebut. Sepanjang malam kuhabiskan waktuku bersama kitab suci itu. Beberapa kali aku merasa di tampar oleh kebenaran yang ada. Bagaimana Quran dengan keindahan bahasanya membuat aku sadar bahwa selama ini aku sangat jauh dari kata beriman. Aku hanya hidup dengan malakukan apa yang aku sukai tanpa aku pernah berpikir apakah yang menciptakan ku juga menyukainya. Aku hany menjalankan ibadah atau sholat ketika di perintah oleh orang tua ku dan tak jarang aku berbohong pada mereka bahwa aku telah melakukannya sedangkan sebenarnya aku tak melakukannya, apa yang selama ini aku lakukan?. Malam itu pikiranku benar-benar berkecamuk, aku merasa bahwa aku adalah orang yang paling hina yang ada di muka bumi ini. Setelah pukul 4 pagi aku tertidur dan bangun pukul 7 pagi. Aku mandi dan membersihkan semua lemari pakaianku. Ku sisahkan pakaian yang berlengan pendek dan berlengan panjang, kupisahkan antara celana panjang dan celana pendek, ku pisahkan antara rok panjang dan rok pendek. Ku lihat perbandingan yang sangat jauh dari tumpukan pakaian itu jauh lebih banyak pakaian yang ketat dan memamerkan auran. Pakaian seperti abaya, gamis, rok panjang, dan pakaian longgar hanya sedikit yang ku punya dan itu semua hanya aku pergunakan ketika kuliah. Aku membersihkan semua pakaian yang ku putuskan tak akan aku pergunakan lagi. ku masukkan di dalam tas dan aku berniat akan aku sumbangkan. Selesai dengan pakaian aku melihat sekeliling kamar yang dipenuhi dengan poster-poster artis korea walaupun dengan berat hati dengan niat yang lurus aku melepas poster-poster tersebut.

Ibu yang melihat kejadian itu menghampiriku dan berkata “apa yang terjadi”, aku memeluk ibu sembari menangis. “ma, maafkan Fara”. Ibu mengelus-elus rambutku. “apa yang terjadi nak?” ibu terus bertanya aku tak sanggup menjawab pertanyaan ibu, aku hanya menangis memelukkan dan sembari mengingat apa yang telah aku lakukan selama ini padanya serta begitu banyak dosa yang telah aku perbuat terhadapnya.

Bersambung…

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BAGAIMANA SEHARUSNYA MENCINTAI SESEORANG ?

Part 1 “Bagaimana seharusnya mencintai seseorang ?” Jawaban dari pertanyaan tersebut pasti berbeda dari setiap orang. Ada yang mengatakan kita harus berkorban untuk seseorang yang kita cintai, kita harus membuatnya bahagia, kita harus menjadi diri sendiri, kita boleh menjadi orang lain, kita juga harus mementingkan diri kita, kita boleh tersakiti, tidak apa-apa jika kita yang terluka, mencintai seseorang juga harus rela jika suatu saat dia dengan orang lain.  Dari sekian banyak jawaban dari semua orang lantas bagaimana seharusnya mencintai seseorang menurut saya ? Aku sudah banyak menerima pengalaman mencintai bahkan dicintai selama ini. Rasanya menjawab pertanyaan tersebut hanya dengan 1 pandangan dan 1 pengalam mencintai saja tidak akan cukup, jawaban pertanyaan ini sangat beragam bukan? Bahkan saya juga bingung apa jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan tersebut. Tapi jika saya tetap harus menjawab maka bagaimana seharusnya mencintai seseorang dari saya...

REZEKI SETIAP MANUSIA

Aku sangat ingat hari itu, terbangun di pagi hari dan tiba-tiba terlintas dipikiran “di rumah setiap hari, pengeluaran terus berjalan. Tetapi pemasukan sama sekali tidak ada”. Pada pagi itu juga aku memutuskan untuk berjualan, jualan naget-naget yang digoreng dan pop ice di depan rumah. Pagi itu aku sangat bersemangat. Bangun, mandi dan bersiap-siap membeli bahan-bahan untuk berjualan. Hari pertama, kedua dan ketiga Alhamdulillah berjalan dengan lancer dan cukup rami. Pada hari keempat tetangga aku juga jualan yang sama, awalnya aku biasa aja. Tapi secara sadar atau tidak sadar ini adalah keadaan dimana aku “terancam” kenapa demikian ? bukankah dia adalah saingan ? ketika A adalah sesuatu yang di butuhkan oleh 20 orang dan hanya bisa di dapatkan di aku maka 20 orang tersebut sudah pasti akan datang ke aku, iya kan ? tapi ketika A bisa di dapatkan selain di tempat ku maka 20orang tersebut belum pasti akan ke aku semuakan ? “Apasih gtu aja lebay banget, kan rezeki setiap orang beda...

RAMADHAN YANG BERBEDA

Seperti yang semua orang ketahui ramadhan kali ini akan jauh berbeda dengan yang sebelumnya. Dari sekian banyak keluhan yang orang lain rasakan aku hanya ingin membahas tentang betapa bersyukurnya aku tahun ini. Setelah beberapa tahun aku tidak bisa menghabiskan waktu ramadhan bersama keluarga, akhirnya tahun ini satu bulan penuh aku akan menghabiskannya dengan keluarga ku. Mungkin ini juga pembelajarn yang dapat kita ambil bahwa kita harus bisa lebih bersyukur dan lebih memberikan waktu berkumpul dengan keluarga tidak hanya mementingkan pekerjaan masing-masing. Jika biasanya aku sahur di kost kostan kadang sendiri atau dengan teman akhirnya tahun ini aku bisa sahur dan berbuka bersama keluarga ku. sholat berjamaah juga salah satu hal yang sangat amat aku rindukan.  Berbicara dengan mereka, bercanda dengan mereka, bahkan memberitahu kesedihan masing-masing adaalah hal yang paling aku sukai. Bisa bersama dengan keluarga akan membuat kita lebih bersyukur dan sadar. ...