#coretan
Dia adalah laki-laki yang 7 tahun
lalu rela nyebur ke tambak ikan untuk mengambilkan handphone aku, dia adalah
laki-laki yang rela naik pohon jeruk walaupun di siang bolong untuk memenuhi
permintaan ku, dia laki-laki yang rela turun-naik rumah pohon untuk sekedar
menyenangkan ku dan dia adalah laki-laki pertama yang membuat aku menjadi
diriku sendiri di depannya. Sekarang dia menjadi laki-laki yang jauh berbeda, jika
dulu dia sangat cerewet sekarang dia banyak diam. Jika dulu dia selalu menempel
dengan ku sekarang dia bahkan tak berani menatapku. Jika dulu dia selalu
mencariku sekarang dia bahkan menghindari ku.
Ternyata semua orang memang akan
berubah dan selalu berubah. Entah menjadi orang yang menyenangkan ataupun
menyebalkan. Aku benar-benar kaget dengan perubahan pada dirinya yang sekarang
tidak hanya dari penampilannya yang berubah tetapi caranya berinteraksi dengan
orang lain pun berubah.
“Kamu Harun kan?”
“iya, aku duluan ya.
Assalamualaikum” dia beranjak pergi meninggalkan ku dalam kebingungan dan
beribu pertanyaan. Dia memang Harun anak dari Ustadz Abdurrahman. Harusnya aku
tak kaget dengan perubahannya sekarang, wajar saja anak ustadz ketika beranjak
dewasa akan berpenampilan seperti itu. Apalagi dia sekarang santri di salah
satu Pesantren ternama di Kalimantan. Jika dia berubah sebanyak itu maka aku
juga sebaliknya. Dulu hanya perempuan desa yang tak tahu menahu tentang
fashion, skincare dan oppa oppa Korea. Sekarang menjadi perempuan yang selalu mementingkan
3 hal tersebut, bahkan rasanya hidup ini akan kurang jika 3 hal tersebut aku
tinggalkan.
Setelah acara di rumah kakek
selesai kami sekeluarga memutuskan untuk kembali kerumah, karena ayah punya
pekerjaan dan ibu harus menyelesaikan pesanan kue pelanggan. Kami berpamitan
dengan keluarga kakek, karena aku dan ibu ku selalu update di sosial media
akhirnya kami meminta untuk foto bersama. Aku, adikku, ibu, ayah, kakek, nenek,
Harun, Rahman, dan Abdul berfoto bersama. Setelah itu kami bersalaman dan
pulang. Sedih rasanya harus meninggalkan tempat kakek, suasana nya sangat
tenang belum lagi setiap waktu selalu rutin mendengarkan Harun membaca Ayat
Suci Quran. Walaupun kami tak banyak berbicara dengan melihatnya saja aku sudah
sangat senang.
Diperjalanan pulang, ku buka
jendela mobil. Kurasakan udara yang begitu segar walaupun ada sedikit debu yang
menyentuh pipi ku. ku lihat sekeliling pepohonan yang hijau dan menari-nari.
Sungguh damai rasanya. Aku mengambil handphone untuk mengabadikan momen ini dan
aku bagikan ke sosial media. Ketika itu aku juga melihat kembali foto-foto yang
di ambil ketika berpamitan dengan kakek dan keluarganya. Ku lihat satu persatu
wajah di foto tersebut, dan aku tersenyum ketika melihat wajah Harun, sungguh
wajah yang meneduhkan. Ku perbesar pada wajah Harun ku lihat berulang kali dan
aku putuskan untuk memposting foto tersebut.
Sampai
bertemu lagi
Tulisku pada caption Instagram.
Memang itulah yang aku inginkan, bertemu kembali. Bahkan kalau bisa secepatnya.
Baru saja berpisah rasanya aku sudah merindukannya, aku tak tahan dengan
perasaan ini, aku juga lupa meminta Nomer Telpon Harun. “cari di instagram aja”
pikir ku dalam hati. Aku mengetikkan nama Abdurrahman Harun, Abdurrahman Harun
Al-Amin, Harun Al-Amin. Tetapi tak kunjung aku temukan. Akhirnya aku mencoba
untuk mengetik nama adiknya Abdurrahman Abdul Al-Hanafi dan ketemu. Aku meminta
pertemanan instagram pada adiknya, tidak lama kemudian adiknya menerima
pertemanan ku. aku mencoba mencari di Followers,
Following dan tag an pun aku tak
menemukan instagram Harun. Karena rasa penasaran yang sangat memuncak aku
memberanikan diri untuk mengirim pesan kepada adiknya dan kebetulan aku memang
lebih akrab dengannya.
“assalamualaikum,
Instagram kak Harun namanya apa ya?”
“waalaikumsalam,
Kak Harun tidak mengunakan instagram. Ini nomer telponnya 08xx xxxx xxx”
“oke
thanks”
Emang beda ini orang, ngak punya
instagram. Ngak salah apa?, tapi ngak papa lah nomer telpon lebih baik. Aku
segera menyimpan nomer telpon Harun dan mengirimkan pesan kepadanya.
“Assalamualaikum,
save ya. Ini Fara.”
Tanda cektang dua berwarna abu-abu
menandakan pesan tersebut telah terkirim. Aku menunggu balasan tapi tak kunjung
ku dapatkan, jangankan di balas tanda centang abu-abu itu tak kunjung berubah
warna menjadi biru. Mungkin dia sibuk, atau lagi ngak main handphone. Aku
menyimpan handphone dan mengambil buku novel yang tak sembat selesai kubaca.
Satu halaman membaca aku mengecek handphone masih berwarna coklat. Aku kembali
membaca, satu halaman lagi aku kembali mengecek handphone kali ini juga tetap
sama. Aku sama sekali tak fokus membaca novel. Aku memutuskan untuk streaming
drama korea terbaru, satu jam menonton tak juga warna coklat itu berubah
menjadi biru. Aku mulai kesal. Mana ada orang yang benar-benar sibuk 24 jam di
dunia ini. Sesibuk apapun juga pasti mengecek handphone, atau jangan-jangan dia
memang tidak mau membaca pesan dari ku. Aku mulai berpikir macam-macam. Karena
tak tahan cara satu-satunya adalah tidur. Ketika mulai jengkel, sedih, marah
ataupun sakit hati cara yang paling ampuh untuk menenangkan diri adalah dengan
tidur. aku memejamkan mata dan perlahan-lahan hanyut dalam tidurku.
“Fara bangun, sudah sampai.” Suara
ayah membangunkan ku. ternyata kami sudah sampai dirumah. Aku keluar mobil dan
segera mandi, ketika selesai mandi aku bergegas menbuka handphone dengan
harapan warna coklat itu berubah menjadi biru. Tetapi lagi-lagi aku di
kecewakan. Warna coklat itu tetap coklat. Aku melepar handphone kekasur “Kurang
ajar”. Aku benar-benar jengkel. Bagaimana bisa 4 jam pesan ku hanya di abaikan.
Ku lihat kembali handphoen tersebut dan hanya ada pesan dari Sakti, karena
kecewa dengan Harun aku melampiaskan perasaan itu kepada Sakti, aku menelpon
nya dan kami berbicara selama 45 menit di telpon, dia bercerita panjang lebar
dan sesekali memberikan gombalan yang mampu menghilangkan rasa kecewaku.
***
Malam hari setelah menyelesaikan
sholat Isya Harun mengambil Al-Quran kecil berwarna hitam kesayangannya, dia
membuka Al-Quran itu dia lembar demi lembaran di abaca dengan suara merdunya, sesekali
dia meneteskan air mata karena begitu sempurna kitab yang di abaca bahkan tak
dia dapati keraguan dalam kitab tersebut. Setelah selesai membaca dia
memanjatkan doa kepada sang Pemilik Hati, semoga kelak dia dipertemukan dan di
jodohkan dengan Perempuan yang sama cintanya dengan kitab yang dia pegang saat
itu. Dia meletakkan Kitab tersebut di meja samping tempat tidurnya dan dia
mengecek Handphone sebelum tidurnya.
Terdapat pesan dari nomer yang tak dikenalinya.
“Assalamualaikum,
save ya. Ini Fara.”
Ternyata pesan itu dari Fara, dia
menyimpan nomer Fara dengan nama Nesya Faranisa. Lalu dia membalas pesan
tersebut.
“Waalaikumsalam,
na’am”
Setelah mengecak handphone dan jam
menunjukan pukul 10 malam Harun mematikan lampu kamarnya dan bersiap untuk tidur,
dia selalu tidur cepat sehingga pagi-pagi sekali dia bisa bangun mandi dan
melaksanakan sholat Tahajud yang tak pernah dia lewatkan selama berada
dipesantren kecuali jika ada sesuatu hal yang membuatnya tak bisa
melakukkannya.
Ditempat lain, Fara sedang asik
memanjakan mata dan nafsunya dengan menonton MV kpop kesukaannya yang baru saja
Comeback. Laki-laki menyanyi, menari,
dan sesekali memamerkan otot perut yang sangat menggoda membuat Fara hanyut dan
terbuai. Imajinasinya kemana-mana. Sesekali dia berteriak kegirangan, ikut
menari-nari bahkan tertawa tak jelas. Tak ada seorangpun yang dapat merasakan
apa yang ia rasakan kecuali orang-orang yang memiliki kegemaran yang sama.
Setelah selesai Fara menutup laptopnya dan mengambil Handphone untuk memberitahu
teman-temannya bahwa dia telah menonton MV kpop yang baru saja comeback. Tetapi niat itu ia urungkan
karena dia melihat balasan pesan dari Harun, dia segera membukanya tetapi bukan
kegembiraan yang ia dapatkan melaikan lagi-lagi ia dikecewakan.
“Waalaikumsalam,
na’am”. Balasan macam apa ini, pesannya telah di abaikan berjam-jam dan
balasan yang iya dapatkan hanya demikian. “sombong banget sih” aku sangat kesal.
Karena sangat kesal akhirnya aku memberanikan diri menelpon Harun tetapi dia
tidak mengangkat. 1 kali ku coba, 2 kali bahkan sampai 3 kali Harun tak
mengangkat panggilan itu. “awas aja ya, dasar laki-laki sombong.” Aku akhirnya
memutuskan untuk membuka Instagram karena bosan dengan kiriman orang-orang di
Instagram akhrinya aku melihat ke pencarian, semua di pencarianku hanya dihiasi
dengan wajah-wajah artis korea, drama korea, dan banyak hal tentang korea
lainnya. Tapi ada satu postingan yang muncul dari @potongansurah yang berisikan
tentang Quran Surah An-Nur Ayat 26 entah kenapa aku membuka postingan tersebut.
“Al-khabiisaatu
lil-khabiisiina wal-khabiitsuuna lil-khabiisaat, wath-thaiyibaatu
li-ththai-yibaati, uula ika mubarrauuna mimma yaquuluuna, lahum maghfiratun
warizqun kariim”
(Perempuan-perempuan yang keji
untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan
yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang
baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka
itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunana dan
rezeki yang mulia (surga)).
Seketika membaca postingan tersebut
tiba-tiba saja hatiku seperti tersentuh oleh sesuatu yang baru, pikiran ku
mulai tak terarahkan, air mata mulai membasahi pipi, badan terasa gemetar dan
bulu kuduk tiba-tiba berdiri. Aku baru mengetahuinya sekarang. Ketika beberapa
lama aku terdiam dan menangis karena tak tahu alasan yang jelas, ku arahkan
pandangan ku keatas meja belajar terlihat satu Kitab dengan sedikit debu yang
tak pernah ku sentuh entah berapa lama, aku turun dari kasur ku ambil kitab
tersebut dan ku cari Surah An-Nur, ku buka halaman 350 juz 18 surah ke 24.
Kucari ayat 26 dan ku baca terjemahan ayat tersebut tepat di halaman 352 di
sebelah kiri bawah aku temukan terjemahan ayat tersebut, berulang kali ku baca
“Perempuan-perempuan yang keji
untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan
yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang
baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka
itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunana dan
rezeki yang mulia (surga)”
Aku menangis, bagaimana bisa di
umur yang 21 tahun ini baru pertama kali aku membaca terjemahan Kitab ini,
bahkan hampir beberapa tahun aku hanya membiarkan kitab ini menjadi pajangan di
kamar tidurku. Akhirnya aku membuka dari halaman pertama, ku baca terjemahan
ayat tersebut. Sepanjang malam kuhabiskan waktuku bersama kitab suci itu. Beberapa
kali aku merasa di tampar oleh kebenaran yang ada. Bagaimana Quran dengan
keindahan bahasanya membuat aku sadar bahwa selama ini aku sangat jauh dari
kata beriman. Aku hanya hidup dengan malakukan apa yang aku sukai tanpa aku
pernah berpikir apakah yang menciptakan ku juga menyukainya. Aku hany menjalankan
ibadah atau sholat ketika di perintah oleh orang tua ku dan tak jarang aku
berbohong pada mereka bahwa aku telah melakukannya sedangkan sebenarnya aku tak
melakukannya, apa yang selama ini aku lakukan?. Malam itu pikiranku benar-benar
berkecamuk, aku merasa bahwa aku adalah orang yang paling hina yang ada di muka
bumi ini. Setelah pukul 4 pagi aku tertidur dan bangun pukul 7 pagi. Aku mandi
dan membersihkan semua lemari pakaianku. Ku sisahkan pakaian yang berlengan
pendek dan berlengan panjang, kupisahkan antara celana panjang dan celana
pendek, ku pisahkan antara rok panjang dan rok pendek. Ku lihat perbandingan
yang sangat jauh dari tumpukan pakaian itu jauh lebih banyak pakaian yang ketat
dan memamerkan auran. Pakaian seperti abaya, gamis, rok panjang, dan pakaian
longgar hanya sedikit yang ku punya dan itu semua hanya aku pergunakan ketika
kuliah. Aku membersihkan semua pakaian yang ku putuskan tak akan aku pergunakan
lagi. ku masukkan di dalam tas dan aku berniat akan aku sumbangkan. Selesai
dengan pakaian aku melihat sekeliling kamar yang dipenuhi dengan poster-poster
artis korea walaupun dengan berat hati dengan niat yang lurus aku melepas
poster-poster tersebut.
Ibu yang melihat kejadian itu
menghampiriku dan berkata “apa yang terjadi”, aku memeluk ibu sembari menangis.
“ma, maafkan Fara”. Ibu mengelus-elus rambutku. “apa yang terjadi nak?” ibu
terus bertanya aku tak sanggup menjawab pertanyaan ibu, aku hanya menangis memelukkan
dan sembari mengingat apa yang telah aku lakukan selama ini padanya serta
begitu banyak dosa yang telah aku perbuat terhadapnya.
Bersambung…
Komentar
Posting Komentar