#coretan
Aku berjalan memasuki rumah
mendatangi sumber suara ibu yang memanggilku. Ku lihat dua orang wanita sedang
duduk membersihkan sayuran. Aku berjalan menghampiri mereka “ada apa ma?”
“cepat mandi, setelah mandi bantu memasak
untuk makan malam”
Aku mengganggukkan kepala tanda
bahwa aku mengerti perkataan ibu ku. Kuambil handuk dan pakaian ganti. Selepas
mandi aku memakai abaya berwarna biru dengan motif bunga melati kecil disekitar pergelangan
tangan, serta ku kenakan khimar kesayanganku yang juga berwarna biru gelap. Ku
ambil lipbam dan sedikit ku oleskan pada bibirku agar tidak terlihat kering.
“pakai parfum gk ya?” tanya ku pada diriku sendiri. Aku agak berhati-hati
ketika dirumah kakek karena beliau adalah seseorang yang sangat terkenal akan
agamanya dan jarang sekali rumah beliau
kosong tanpa seorang tamu yang berkunjung, entah hanya sekedar silaturahmi atau
meminta pendapat beliau akan sesuatu. Akhirnya aku mengurungkan niat untuk
menggunakan parfum kesayanganku. Ku lihat berulang kali diriku di cermin ku
amati dari ujung kepala hingga ujung kaki, karena aku takut ada sesuatu yang
salah dan itu menjadi teguran oleh beliau. Setelah beberapa kali ku lihat dan aku
merasa sudah yakin dengan penampilanku barulah aku keluar dan membantu memasak
didapur.
“mau masak apa ma?”
“Masak rawon”
“apa yang perlu aku bantu”
“kamu persiapkan toge nya saja,
toge nya masih dalam kulkas”
Aku mendekati kulkas dan kubuka, ku
cari perlahan dari bagian atas hingga bawah tapi tak kunjung aku temukan, ku
cari kembali tetap saja tidak ketemu. “ma, toge nya tidak ada”
“ada, tadi mama letakkan di kulkas”
“tidak ada ma”
Ibu ku berjalan kearah kulkas
mengambil Tupperware berwarna hijau. Dan membuka Tupperware terserbut sembari
berkata “ini apa? Makanya lain kali coba cari yang benar, cepat cuci” sembari
meletakkan Tupperware itu ditanganku. Bagaimana mungkin toge ini ada didalam
kulkas sedangkan aku sudah berulang kali mencarinya. Ibu ku memang hebat, ini
bukan kejadian pertama kalinya tidak hanya urusan sayur, makanan, pakaian, buku
bahkan barang pribadi ku ibu lah yang lebih tau letak penyimpanannya. Sembari
mencuci toge aku teringat akan handphone yang sejak di perjalanan telah aku
matikan, bagaimana jika ada hal penting di grup kampus atau ada yang sedang mencari ku. aku cepat-cepat membersihkan toge dan pergi ke kamar untuk mencek
handphone, benar saja saat handphone menyala banyak sekali pesan di grup dan ada bebarapa panggilan whatsapp.
“teman-teman
besok kita ada ujian evaluasi ya, 25 soal, waktunya 25 menit.”
“minta
keringanan dengan dosen dong, waktunya lebihin.”
“iya
nih, jaringan di tempat ku susah, nanti kalau lelet gk sempat ngejawab”
“oke,
nanti aku tanyakan ke dosen yah”
“oke,
terimakasih”
“terimakasih”
Aku menghela napas, besok lagi-lagi
harus ada ujian. Apakah hidup ini memang selalu penuh dengan ujian. Dari
sekolah sampai kuliah pun sering dapat ujian, belum lagi ujian hidup
apalagi ada ujian dadakan, misalnya lagi suka sama seseorang tapi dianya suka
sama orang lain. Kan ujiannya lebih berat.
Jariku berpindah dari menekan chat
sekarang menekan panggilan untuk melihat panggilan siapa yang tak sempat ku
jawab. 3 kali panggilan tak terjawab dari Sakti Yuda dan 2 kali panggilan tak
terjawab dari Dena. “Ngapain lagi sih ni cowok nelpon segala, sudah puas sama
si cewek itu sekarang giliran aku lagi? dasar cowok plin-plan. Susah banget yah
memilih diantara dua orang cewek.” Aku menggerutu dengan kesal.
Bagaimana tidak tadi malam dia menghilang dan menghabiskan waktu dengan cewek
lain, sekarang dengan tidak tau malu menghubungi ku. aku pun tidak menghiraukan
panggilannya dan mencoba menelpon Dena.
“Hallo
Den, Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam,
Kemana aja si, ngak ada kabar, besok ujian udah belajar?”
“Badmood
gue, belum lah emang loe udah?”
“badmood
terus, pasti gara-gara cowok itu lagi, ketua BEM kan? Cowok seperti dia emang
banyak cewek nya. Udahlah nanti juga loe luluh lagi. Malam ini gue telpon kita
belajar bareng ya.”
“Makanya
doa’in teman loe ini biar cepat dapat penggantinya. Sorry gak bisa gue, lagi di
rumah kakek soalnya, pada ngumpul keluarga.”
“iya
di doa’in. masa ngak bisa sih, bentar aja oke? Pokoknya jam 10 nanti malam gue
telpon. Bye.”
Klik.
Telpon mati
“Waalaikumsalam”
Dasar ni anak nutup telpon gak
pamitan gk bilang salam lagi.
Bunyi telpon.
Aku melihat kearah telpon ternyata
ada panggilan video dari Sakti Yuda. Angkat atau enggak yah, angkat aja deh
siapa tau penting.
“Beb, kemana aja sih? Aku telpon
ngak aktif, aku lagi sakit tau. Kangen juga sama kamu” Sakti memang cowok romantis, manis dan penuh perhatian. Sejak 9 tahun kami berkenalan sangat banyak
cewek yang tertarik dengan sikap dan paras tampannya. Tak jarang juga
pertemanan atau persahabatan para wanita hancur hanya karena memperebutkan
hatinya. Dan benar kata Dena bahwa aku pastinya dan akan selalu luluh
terhadapnya.
“ya iyalah sakit, tidur larut malas
terus. Cepat sana minum obat terus istirahat.”
“Hee, kamu tau aja, ya udah aku
istirahat yah. Bye. I love You.”
Aku menutup telpon tanpa
membalasnya. Sekuat apapun benteng pertahanan yang aku telah persiapkan selalu
runtuh karena kata-kata manisnya. Sekuat apapun tekat yang telah aku persiapkan
tetap akan kalah dengan senyumannya. Entah sihir apa yang ada pada wajah dan
kata-katanya sehingga membuat aku selalu tak berdaya. Wajar saja, dia adalah
seseorang yang sangat bisa membuat hati perempuan manapun bergelonjak, matanya
yang berwarna agak kecoklatan, hidungnya yang sangat mancung, rahangnya yang
sangat menarik, bibirnya yang tipis, dadanya yang bidang, tubuhnya yang sangat
tinggi dan senyuman manisnya yang luar biasa indah. Itu hanya terpancar dari
penglihatan saja, belum lagi ketika benar-benar berada dekat dengannya.
Perilakukanya yang perhatian, tampak tegas dan bertanggung jawab jika di
hadapan teman-temannya tetapi akan sangat manja jika hanya dihadapan satu
perempuan, dan sikap homurisnya yang selalu membuat perempuat senang serta
terhibur. Rasanya tidak terdapat satu kekuranganpun padanya, hanya saja dia
terlalu banyak dekat dengan perempuan. Tidak itu bukan kekurangan tapi adalah
kelebihan dari seorang laki-laki sepertinya.
Tok tok tok..
Terdengar suara ketukan pintu, “ada
apa?”
“kata kakek keluar sebentar.” Jawab
seseorang laki-laki dibalik pintu, suaranya terdengar tegas tetapi juga lembut.
Seperti tidak asing tetapi aku juga tak mengenalinya. “oh iya”. Aku meletakkan
handphone dan berjalan menuju arah pintu. Ketika aku membuka pintu tidak ada seseorangpun, mungkin dia sudah pergi. Aku berjalan keruang tamu, ku lihat
kakek sedang duduk santai dengan menikmati kopi. Aku mendekati beliau dan duduk
di kursi tak jauh di samping kakek.
“Fara, kuliahnya sudah semester
berapa?
“Semester 6 kek”
“Sebentar lagi lulus ya. Rencananya
mau lanjut kemana ?”
“Masih 2 tahun kalau sama
profesinya. Maunya ke Mesir he”
“Jangan jauh-jauh, kasihan orang
tua di tinggal terus. Kalau mau nikah kapan? Sudah punya calon?”
Memang benar kata kakek sejak SMP
aku sudah tidak tinggal bersama orang tua sampai sekarang rasanya sudah 9 tahun
aku tak tinggal bersama mereka. Tetapi pertanyaan kapan nikah adalah pertanyaan
yang paling aku benci selama ini. Bagaimana mungkin semua orang yang aku kenal
selalu menanyakan pertanyaan yang sama. Jangankan kalian yang bertanya diriku
sendiri saja tidak tahu kapan aku akan menikah.
“Belum ada niat untuk menikah kek,
calon juga belum kepikiran”
“Syukurlah kalau begitu. Paling
lama 7 tahun lagi kamu baru menikah kakek sudah memiliki calon kalau kamu mau.”
Sontak mataku menatap kearah
kakek dengan tatapan kaget dan bingung. Aku memang tidak ada niatan menikah
sekarang, tapi bagaimana mungkin kakek mempersiapkan calon dan aku harus
menunggu 7 tahun lagi. umurku sekarang sudah kepala 2. Aku tak menjawab
pertanyaan kakek. Kakek tetap santai menikmati kopi nya tanpa sadar bagaimana
kaget nya aku.
***
Ketika makan malam aku masih teringat
akan ucapan kakek, siapa yang kakek maksud. Mengapa kakek mempersiapkan
pasangan untukku padahal beliau bukan kakek kandungku hanya kakek angkat karena
ayah ku berangkat ayah kepada beliau karena belia adalah seorang ustadz yang
sangat terkenal di wilayah itu bahkan memiliki pesantren yang cukup besar.
“Fara, nanti kita shalat isya di
mushola ya”
“Iya ma"
Setelah selesai makan malam aku
membantu membersihkan meja makan dan mencuci piring. Tak terasa azan berkumandang terdengar suara seseorang yang sangat merdu. Suara nya mampu
membuat hati ini tenang. “subhanallah, semoga kelak aku diperjodohkan dengan seseorang
yang suaranya merdu seperti ini”.
Keesokan harinya.
Di balik jendela kurasakan
nikmatnya pagi yang sangat indah,
udara segar, suara burung yang berkicauan, dan harumnya masakan didapur
menambah pagi itu menjadi lebih indah. Sayang rasanya jika pagi seindah ini
hanya kau nikmati di dalam kamar, aku mengambil khimar memasangnya perlahan dan
berjalan keluar rumah untuk menikmati pagi ini. Karena aku belum mencuci muka
maka aku putuskan untuk ketempat wudhu disamping mushola. Samar-samar aku mendengar
lantunan ayat suci Quran di bacakan.
Fa
bi ayyi ala’i rabbikuma tukkazziban
Tabarakasmu
rabbika zil-jalali wal-ikram
(Maka nikmat Tuhanmu yang manakah
yang kamu dustakan ?
Mahasuci nama Tuhanmu pemilik Keagungan dan
Kemuliaan)
(Q.S Ar-rahman ayat 77 - 78)
Iza
waqa’atil-waqiah
Laisa
liwaq’atiha kazibah
Khafidatur
rafi’ah
(Apabila terjadi hari Kiamat,
Terjadinya tidak dapat didustakan (disangkal).
(kejadian itu) merendahkan (satu
golongan) dan meninggikan (golongan yang lain) )
(Q.S Al-waqiah ayat 1-3)
Aku memasuki mushola untuk
mendengarkan lebih jelas lantunan ayat Suci yang dibacakan. Ku lihat seseorang
laki-laki dengan peci putih dan bergamis biru polos itu yang sedang menbaca
ayat Suci tersebut. Aku tertegun dengan bacaannya seketika terlintas dalam
ingatanku ini adalah suara yang persis sama dengan yang tadi malam melantunkan azan.
Siapa laki-laki itu ? tidak mungkin jika dia orang luar yang tiba-tiba membaca
ayat Suci pagi-pagi di sini. Ketika dia telah selesai, aku pun keluar mushola
untuk melihatnya dengan jelas. “permisi” ucapku perlahan. Dia segera
membalikkan badannya kerah ku, sekarang aku dapat melihat wajahnya dengan
sangat jelas. Laki-laki yang sangat tinggi kira-kira sekitar 178 cm, berbadan
gagah, berkulit putih, pandangannya yang teduh, senyumannya yang begitu indah. Sayangnya
aku tak dapat melihat mata nya dengan jelas karena seketika melihatku dia
segera menundukan pandangannya. Aku yang fakir ilmu ini tetap memandanginya
dengan lekat seperti melihat idol korea, tidak dia lebih enak di pandang dari pada idol
korea, ketika idol membuat ku menjerit dan dadaku terasa penuh sedangkan dia
meneduhkan pandangan dan membuat jantung ini lebih kencang berdetak.
“ada apa Fara ?” seketika suara nya
yang begitu indah menyadarkanku. Aku beberapa kali mengedipkan mata dan aku
kaget bagaimana mungkin dia mengetahui nama ku. “kamu?” aku mengenalinya dia
adalah seseorang yang rela memasuki kolam ikan pada malam hari untuk
mengambilkan handphone ku.
Bersambung..
Komentar
Posting Komentar