#coretan
Kala itu angin malam menari bebas
di udara. Membuat dedaunan ikut menari.
Dinginnya angin malam membuat
siapapun memilih untuk bersembunyi di balik selimut tebal yang mereka miliki. Membuat
para penikmat kopi bisa menghabiskan waktu bersama dengan lebih lama. Dan mampu
membuat satu mangkuk mie instan dengan kuahnya yang hangat menjadi pilihan
favorit kebanyakan orang.
Dari banyaknya pilihan yang ada aku
memilih untuk menikmati angin malam ini bersama secangkir teh hangat dan sebuah
gitar yang menemaniku melantunkan lirik-lirik rindu kepada seseorang yang entah
kapan kami akan dipertemukan.
Sesekali aku melihat kearah
handphone berharap ada sebuah notifikasi yang mampu membuat mala mini menjadi
sedikit lebih hangat. “sebenarnya apa yang ku inginkan?” aku sedikit mengeluh. Akhirnya
aku mengambil handphone yang sedari tadi berada di sampingku. Ku buka aplikasi
whatsApp, sayangnya tak ada satupun pesan yang masuk. Aku menghela napas
panjang.
Setelah menikmati kesunyian malam
aku memutuskan untuk kembali kekamar dan berusaha untuk tidur. ku baringkan
tubuhku diatas kasur yang empuk, kutarik selimut agar menutupi sebagian badan
ku lalu aku mulai memejamkan mata. Semakin aku mencoba untuk tidur semakin
muncul pikiran yang tak menyenangkan. Aku kembali membuka mata dan mencoba
menganti posisi tidur ku, menyamping kekiri kekanan memeluk guling tetap saja
aku tak bisa tidur. aku kembali mengambil handphone dan membuka aplikasi
Instagram dan aku mulai mengetik username-nya Saktiyuda_ kulihat lingkaran
merah di profilnya, aku ragu ingin membukanya atau tidak. Aku tak ingin jika
lagi-lagi Instastory dia berhubungan dengan wanita mungil yang cantik itu. Aku mulai
menggigit kuku jembol tangannya, ini adalah kebiasaan yang aku lakukan ketika
gelisah. “buka, tidak, buka, tidak, buka, tidak” perasaan ku berkecamuk.
Aku mempersiapkan diri jika benar
dugaanku maka aku harus mengakhirinya sekarang juga, tetapi jika dugaan ku
salah maka aku akan menghubunginya terlebih dahulu. Dengan keberanian yang
telah aku kumpulkan akupun membuka instastory
nya, dan benar saja dugaan ku bahwa dia sedang bersama wanita mungil nan
cantik itu. Perasaan ku berkecamuk, aku mulai mengepalkan tangan ku dengan
kuat, menarik napas panjang dan berkata “aku baik-baik saja” kalimat itu
berulangkali aku ucapkan tapi semakin aku ucapkan semakin hati ini menolak dan
air mata perlahan mulai membasahi pipi. Aku bisa saja berucap “baik-baik saja”
tetapi perasaan ku lebih dominan menguasai diriku.
Semakin ku usap semakin deras pula
air mata yang membasahi pipi ku. “aku harus kuat, dan aku harus menepati janji
pada diriku sendiri, aku tidak ingin memiliki hubungan apapun lagi dengannya”
aku kembali berbaring mataku masih meneteskan air mata, hembusan napasku mulai memanjang,
aku mulai memejamkan mataku dan perlahan tertidur.
Keesokan harinya aku memperhatikan
diriku di depan cermin, mata yang sedikit sembab, pipi sedikit membengkak dan
wajah yang begitu menyedihkan. Aku menarik napas panjang dan mencoba tersenyum
kepada diriku sendiri. “kamu adalah wanita yang kuat” ucapku sembari menepuk
dada.
“Fara, hari ini kita pergi ke Kakek
Abdurrahman ya” ucap ibu ku
“Ngapain ma? Acaranya kan 2 hari
lagi”
“Iya memang 2 hari lagi tapi kita perlu
bantu-bantu persiapan disana”
Aku hanya mengangguk dan pergi
kekamar untuk menyiapkan beberapa pakaian yang akan aku bawa. Aku memilih
pakaian yang berjenis Abaya dan Gamis serta membawa beberapa khimar mengingat
bahwa aku akan pergi kesuatu tempat yang tidak biasa. Setelah selesai menyiapkan beberapa pakian aku juga tidak
lupa memasukkan buku bacaan untuk menemani ku selama perjalanan.
“Anak-anak ayo berangkat” Suara
ayah memanggil dari depan rumah dengan sedikit berterik
Aku pun bergegas keluar sembari
membawa tas yang berisikan pakaianku. Ketika diperjalanan aku hanya fokus
membaca buku sesekali ibuku mengajak berbicara aku hany merespon dengan
anggukan atau gelengan kepala, bukannya ingin bersikap kurang ajar tetapi
ketika sedang membaca aku akan menjadi seseorang yang sedikit menyebalkan.
“Ma, kita kerumah kakek yang banyak
kolam ikannya itu ya?” Adikku bertanya pada Ibu
“Iya, memangnya ada apa?”
“gak papa ma”
“Dulu kakak mu itu menjatuhkan
Handphone nya ke kolam ikan milik kakek, tapi gak mau ngaku dan akhirnya anak
kakek nyebur ke kolam ikan malam-malam cuman buat ngambilin Handphonenya
kakakmu”
Ketika ibu ku bercerita seperti itu
sontak saja aku menutup buka dan melihat kearah ibu, bagaimana ibu masih ingat
kejadian 7 tahun yang lalu. Jika diingat kembali saat itu sungguh memalukan
sekaligus moment yang tidak akan pernah aku lupakan.
Akhirnya karena ibu ku menceritakan
kejadian itu membuat aku tidak fokus selama perjalanan, pikiranku terbawa ke
masalalu yang membuat aku senyum-senyum sendiri. Sedang asik bernostalgia di
tiba-tiba dering handphone menyadarkanku, ku masukkan tangan ku kedalam tas mungil yang tepat berada disampingku dan
meraih sebuah handphone. Ketika aku buka ternyata pesan whatsapp dari Sakti,
pria yang membuat malam ku terasa menyedihkan. “Tidak Fara, kamu tidak boleh
membuka pesannya” aku kembali memasukkan handphone kedalam tas. Tidak lama
kemudian handphone ku kembali berdering pertanda ada panggilan masuk. Aku kembali
mengambilnya di layar handphone bertuliskan Sakti Yuda. Aku bergegas menolak
panggilannya dan mematikan handphone ku.
“apa yang pria ini inginkan” ucapku
dalam hati.
Setelah 4 jam di perjalanan
akhirnya kami sampai. Aku keluar mobil dan melihat sekeliling, banyak sekali
yang berubah dari tempat ini. Dulunya kolam ikan yang sangat banyak sekarang
hanya beberapa saja yang masih tersisa, dulunya rumah kakek berukuran kecil
sekarang sudah berkali-kali lipat besarnya, dulunya tidak ada sarang burung walet
sekarang berdiri kokoh tepat di atas rumah kakek dan Mushola yang cukup besar
tepat berada di depan rumah beliau. Ketika sudah selesai menurutnkan
barang-barang dari mobil aku meminta izin untuk berkeliling sebentar.
“aku sangat merindukan tempat ini”
ucapku lihir
Aku berjalan menyusuri kolam ikan,
seketika langkah kakiku terhenti tepat ketika handphone ku jatuh waktu itu, aku
tersenyum mengingat hal itu. Aku kembali berjalan dan langkah kakiku kembali
terhenti tepat di samping pohon jeruk yang sekarang daunnya hijaunya berubah
menjadi kekuningan, aku kembali tersenyum. Aku kembali berjalan lagi-lagi
langkah kaki ku terhenti tepat di depan rumah pohon yang biasanya aku naiki. Setelah
7 tahun aku kembali menginjangkkan kaki di tempat ini walaupun banyak perubahan
yang terjadi tetapi kenangan tak pernah berubah sedikitpun aku tidak ada yang
aku lupakan.
Bisa kembali ketempat ini membuat
diriku lebih nyaman, bahagia dan merasa lebih damai. Tanpa aku sadari ini adalah
salah satu tempat kesukaan ku yang sampai kapanpun akan selalu memberikan
pengalaman terbaik dan terhebat untukku.
Setelah puas berkeliling aku
kembali kerumah kakek untuk mandi dan membantu ibu memasak didapur, ketika aku
ingin masuk kerumah tiba-tiba ada sebuah mobil parker tepat didepan rumah, aku
memperhatikan laki-laki berusia 40 tahunan keluar dari mobil sebari tersenyum kearah
ku. aku membalas senyumannya dan dia berjalan menuju belakang mobil untuk
membuka bagasi. Laki-laki itu mengeluarkan beberapa tas dari bagasi mobil dan
tidak lama kemudian pintu tengah mobil terbuka seperti ada seseorang yang ingin
keluar dari mobil tersebut. Aku melirik kerahnya belum ku lihat wajahnya
tiba-tiba suara ibu memanggil ku. Akupun berjalan masuk kerumah dan menghampiri
ibu.
Bersambung.
Komentar
Posting Komentar