Langsung ke konten utama

ORANG TUA



Menjadi orang tua adalah tugas yang penting dan sepertinya sangat berat. Aku menggunakann kata “sepertinya” karena aku belum tahu pasti bagaimana rasanya.

Seorang ibu, dari mereka hamil sampai dengan melahirkan itu saja sangat berat, ketika mereka hamil kadang nafsu makan mereka akan berubah, kalau kehamilannya sudah memasuki bulan ke 6-9 dan perut mereka membesar maka mereka akan sangat sulit untuk bergerak. Apalagi saat melahirkan, sampai sekarang aku belum pernah menemui seseorang yang bilang bahwa melahirkan itu adalah hal yang mudah. Mereka bertaruh nyawa untuk melahirkan seorang bayi kedunia. Membayangkannya saja aku merinding. Aku selalu menyaksikan ibu ku melahirkan kecuali adik ku yang terakhir, karena dia lahiran dengan cara operasi.

Adikku yang pertama lahir saat aku berusia 6 tahun, walaupun tidak terlalu jelas ingatanku saat itu tapi satu hal yang aku ingat, ibuku meneteskan air mata dan berjuang untuk melahirkan adikku. Saat itu aku hanya bisa diam ya karena aku  bingung dan masih belum mengerti.
Setelah 6 tahun kemudian ibuku melahirkan lagi, saat itu aku sudah berusia 12 tahun. Aku juga berada di samping ibuku menguatkan dia untuk melahirkan adikku yang kedua. Saat itu bulan ramadhan dan ketika setelah azan pertanda buka puasa adikku pun lahir.
Saat aku berusia 18 tahun ibu ku melahirkan lagi. aku rasa ini adalah yang paling sakit yang pernah ibuku rasakan dari sebelumnnya. Dari sore ibuku sudah merasakan sakit, dan kami membawa ibu pergi kerumah bidan untuk lahiran, tetapi ibuku juga belum melahirkan. Kami mengunggu sampai malam, karena tidak bisa juga akhirnya jam 11 malam ibu dirujuk ke rumah sakit. Aku tidak tidur malam itu, aku melihat ibuku beberapa kali menangis dan ayah sangat gelisah saat tidak dihadapan ibu, tetapi ayah sangat tenang dan berusaha menguatkan ibu. Kami menunggu hingga pagi. Dan dokter memutuskan agar ibu di operasi, karena jika tidak kemungkinan yang paling buruk adalah salah satu di antara mereka akan meninggal, entah adikku atau ibuku. Setelah berdiskusi akhirnya kami memutuskan agar ibu di operasi. Jam 8 pagi operasi selesai, ibuku masih diruang operasi dan perawat menyerahkan adikku kepada kami. Saat itu juga ayahku melantunkan azan di telinga adikku. Lega rasanya melihat ibu dan adikku selamat.

Begitu besar yah perjuangan seorang ibu, itupun hanya sampai melahirkan. Bagaimana lagi perjuangan seorang ibu untuk mendidik anak-anak mereka. Seperti kita tahu bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anak mereka.

Menjadi seorang ibu maka harus rela memberikan waktunya untuk anak mereka, bahkan tidak jarang aku melihat ibu ku berhenti makan hanya untuk memberikan ASI kepada adik-adikku.
Tetapi ada juga sih kadang seorang ibu yang teledor dalam menjaga anak mereka, yah karena memang tidak ada yang sempurna walaupun seorang ibu yang biasa dibilang malaikan tak bersayap.

aku ingat satu kejadian, saat itu ada 2 orang anak perempuan datang ke warung ku untuk berbelanja, kakaknya berusia sekitar 7 tahun dan adikknya berusia sekitar 4 tahun. Mereka duduk di kursi sedangkan aku menyiapkan beberapa belanjaan yang mereka beli. Saat aku membelakangi mereka aku mendengar suara yang cukup keras saat aku melihat kearah mereka ternyata sang adik jatuh dari gendongannya. Aku langsung kaget, jujur aku tidak tau ingin berbuat apa. Aku tidak bisa mengangkat anak tersebut karena terhalang meja. Akupun meminta sang kakak untuk mengangkat adik nya dan segera membawanya pulang. Sang adik hanya bisa menangis kencang.

Dari kejadian itu aku belajar bahwa kita tidak bisa memberikan tanggung jawab sepenuhnya untuk seorang anak yang hanya berusia 7 tahun dalam menjaga adik mereka tanpa pengawasan dari seseorang yang dewasa.
Aku juga pernah melakukan kesalahan saat aku menjaga adikku, saat itu aku telah duduk di bangku SMK. Aku dan adikku asik bermain sambil menjaga toko, dia naik ke atas tumpukan karung beras dan melompat dia mengulangi hal tersebut beberapa kali, hingga akhirnya dia terjatuh dan kepalanya berdarah. Dia langsung menangis kencang, ibu ku yang saat itu mendengar tangisannya langsung berlari mendekati kami. Tapi karena ibu takut darah akhirnya ibu menanyaiku untuk melakukan apa. Aku pun meminta ibu untuk membasahi handuk dan handuk tersebut aku tempelkan kedahi adik ku, sambil menekannya sehingga dapat menghentikan perdarahan. Aku meminta ibuku untuk menggantikan aku agar menekan luka nya, sedangkan aku pergi mengambil motor dan membawa adikku ke dokter. Sekitar 20menit baru kami sampai.
Lagi lagi aku belajar dari kejadian tersebut. Peranan orang tua sangat penting bukan ?
Saat memutuskan untuk menjadi orang tua bukankah kita harus meyakinkan diri kita sendiri, apakah kita benar-benar siap menjadi orang tua.

Kadang aku berpikir begitu hebatnya orang tua dapat mendidik anak mereka, membesarkan anak-anak mereka dan bahkan rela melakukan apapun demi anak mereka. Tapi terkadang saat aku melihat beberapa orang tua yang memukul anak mereka, mengucapkan kata-kata kasar kepada anak mereka bahkan mereka seenaknya memperlakukan anak mereka. Itu semua membuat aku berpikir, ini orang sayang gk sih sama anaknya.
Walaupun aku tidak tahu apa masalah yang sedang mereka alami, tapi melampiaskan perasaan yang tidak baik kepada anak mereka sendiri rasanya itu bukan perbuatan yang benar. Aku jadi teringat satu kejadian yang sama dan sering sekali terjadi. Seorang ibu dan anak pergi berbelanja ke warung kami. Saat sang ibu bertengkar dengan suaminya maka dia akan melampiaskan amarahnya kepada sang anak. Dia mencubit anaknya dengan keras sambil berkata “gara-gara kamu ibu dan ayah bertengkar”. Lalu sang anak akan menangis kencang dan lagi-lagi ibu itu mencubit anaknya sambil berkata “jangan menangis, nanti ayah mu akan bertambah marah dengan ibu”. Aku yang melihat kejadian itu hanya bisa diam walaupun dalam hati aku benar-benar menyumpahi ibu itu. Bagaimana bisa dia melakukan hal tersebut dihapadan orang lain? Bagaimana bisa dia meminta anaknya untuk tidak menangis dengan cara mencubitnya? Bagaimana bisa dia melampiaskan amarahnya kepada sang anak. Walaupun aku tidak tahu bagimana dia bisa bertengkar dengan suaminya, tetapi aku merasa tindakan itu tidak benar.

Apa yang bisa aku lalukan? Memberitahu ibu itu bahwa apa yang dia lakukan tidak benar? Sayangnya aku bukan perempuan yang pemberani untuk melakukan hal tersebut.
Tolonglah jika kalian ingin mempunyai anak atau ingin menjadi orang tua maka kalian harus mempersiapkan semua itu.

Lantas apa yang dilakukan seorang ayah dalam menjadi orang tua?
Seorang ayah tentu saja berjuang dalam hal finansial, dia harus menafkahi istri dan anak-anaknya. Bahkan aku rasa seorang ayah akan bekerja lebih extra jika telah memiliki seorang anak.
Seorang ayah juga tentunya harus menjadi imam yang baik dan contoh yang baik untuk anak-anaknya, kasih sayang dari seorang ayah juga sangat penting. Ibu ku selalu bercerita bahwa dulu saat dia melahirkanku dia tidak merasakan sayang dengan ku, bahkan dia takut untuk menyentuhku. Karena dia anak bungsu dan tidak pernah merawat bayi sebelumnya. Sehingga saat kecil aku lebih banyak di rawat oleh ayah, dari menggantikan popok, memandikan, bermain, bahkan menggendongku. Itu semua yang ayah lakukan.

Dulu ayah juga seorang perokok yang berat, tapi ayah berjanji akan berhenti merokok ketika adikku yang pertama masuk smp, dia tidak ingin adik laki-laki ku meniru perbuatannya yang tidak baik itu. Aku juga berusaha membantu ayah, dari meminta ayah untuk membaca buku, memperbanyak makan permen bahkan aku memberitahu zat-zat yang tidak baik pada rokok. Akhirnya saat adikku smp ayah benar-benar berhenti merokok sampai sekarang.

Seorang ayah juga harus bijaksana, bertanggung jawab dan dapat menyelesaikan masalah yang ada. Tidak jarang jika aku bertengkar dengan adikku maka ayah akan datang dan memberikanku nasehat dan ayah selalu bilang begini “sudah jangan bertengkar, kalau kalian bertengkar ayah sedih melihatnya” perasaan yang mulanya jengkel berubah deh dengan perasaan bersalah.

Seorang ayah juga harus bisa bergaul dan menyesuaikan diri dengan anak-anak mereka. Aku ingat waktu aku smk karena pisah dengan orang tua dan hanya ayah yang bisa mengunjungiku, ayah yang mengajak aku jalan-jalan bahkan membeli beberapa pakaian untukku.
Pokoknya menjadi seorang ayah ataupun ibu benar-benar tanggung jawab yang besar.
Satu hal lagi nih, jangan pernah bertengkar didepan anak-anak kalian. Sampai usiaku 21 tahun ini aku tidak pernah melihat ataupun mendengar orang tuaku bertengkar, dan aku sangat bersyukur sekali untuk itu.

Waktu aku belum sekolah dasar hingga aku lulus sekolah dasar aku pernah menemui 1 keluarga yang terang-terangan melakuakn KDRT, ibu itu sering dipukul oleh suaminya, bahkan tidak hanya di pukul dia juga di tendang. Aku yang saat itu melihat hanya bisa diam dan kadang-kadang aku kabur, karena aku takut. Sekarang aku berpikir bagaimana perasaan anak mereka melihat hal tersebut saat itu ? tentu saja akan meninggalkan kenangan yang buruk. Sekarang anak mereka sudah menikah dan mereka juga bertengkar terang-terangan di hadapan anak mereka. Apakah kejadian sepeti ini akan terus berulang? Entahlah. Semoga saja tidak.

Rasanya sangat sakit dan memalukan ketika kita bisa melihat hal-hal seperti itu tapi kita tidak bisa melakukan apapun.

Menikahlah ketika kalian benar-benar siap dan belajarlah menjadi orang tua sebelum kalian memiliki seorang anak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BAGAIMANA SEHARUSNYA MENCINTAI SESEORANG ?

Part 1 “Bagaimana seharusnya mencintai seseorang ?” Jawaban dari pertanyaan tersebut pasti berbeda dari setiap orang. Ada yang mengatakan kita harus berkorban untuk seseorang yang kita cintai, kita harus membuatnya bahagia, kita harus menjadi diri sendiri, kita boleh menjadi orang lain, kita juga harus mementingkan diri kita, kita boleh tersakiti, tidak apa-apa jika kita yang terluka, mencintai seseorang juga harus rela jika suatu saat dia dengan orang lain.  Dari sekian banyak jawaban dari semua orang lantas bagaimana seharusnya mencintai seseorang menurut saya ? Aku sudah banyak menerima pengalaman mencintai bahkan dicintai selama ini. Rasanya menjawab pertanyaan tersebut hanya dengan 1 pandangan dan 1 pengalam mencintai saja tidak akan cukup, jawaban pertanyaan ini sangat beragam bukan? Bahkan saya juga bingung apa jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan tersebut. Tapi jika saya tetap harus menjawab maka bagaimana seharusnya mencintai seseorang dari saya...

REZEKI SETIAP MANUSIA

Aku sangat ingat hari itu, terbangun di pagi hari dan tiba-tiba terlintas dipikiran “di rumah setiap hari, pengeluaran terus berjalan. Tetapi pemasukan sama sekali tidak ada”. Pada pagi itu juga aku memutuskan untuk berjualan, jualan naget-naget yang digoreng dan pop ice di depan rumah. Pagi itu aku sangat bersemangat. Bangun, mandi dan bersiap-siap membeli bahan-bahan untuk berjualan. Hari pertama, kedua dan ketiga Alhamdulillah berjalan dengan lancer dan cukup rami. Pada hari keempat tetangga aku juga jualan yang sama, awalnya aku biasa aja. Tapi secara sadar atau tidak sadar ini adalah keadaan dimana aku “terancam” kenapa demikian ? bukankah dia adalah saingan ? ketika A adalah sesuatu yang di butuhkan oleh 20 orang dan hanya bisa di dapatkan di aku maka 20 orang tersebut sudah pasti akan datang ke aku, iya kan ? tapi ketika A bisa di dapatkan selain di tempat ku maka 20orang tersebut belum pasti akan ke aku semuakan ? “Apasih gtu aja lebay banget, kan rezeki setiap orang beda...

RAMADHAN YANG BERBEDA

Seperti yang semua orang ketahui ramadhan kali ini akan jauh berbeda dengan yang sebelumnya. Dari sekian banyak keluhan yang orang lain rasakan aku hanya ingin membahas tentang betapa bersyukurnya aku tahun ini. Setelah beberapa tahun aku tidak bisa menghabiskan waktu ramadhan bersama keluarga, akhirnya tahun ini satu bulan penuh aku akan menghabiskannya dengan keluarga ku. Mungkin ini juga pembelajarn yang dapat kita ambil bahwa kita harus bisa lebih bersyukur dan lebih memberikan waktu berkumpul dengan keluarga tidak hanya mementingkan pekerjaan masing-masing. Jika biasanya aku sahur di kost kostan kadang sendiri atau dengan teman akhirnya tahun ini aku bisa sahur dan berbuka bersama keluarga ku. sholat berjamaah juga salah satu hal yang sangat amat aku rindukan.  Berbicara dengan mereka, bercanda dengan mereka, bahkan memberitahu kesedihan masing-masing adaalah hal yang paling aku sukai. Bisa bersama dengan keluarga akan membuat kita lebih bersyukur dan sadar. ...